OH, NO !!!

“Uuuhh,, senengnya akhirnya libur juga deh Sekolahnya. Akhirnya bisa refreshing !!” Ucapku setelah memasuki mobil pribadiku. Mobil Honda Jazz pink kesayanganku. “Jelas doong Graze, ini kan saat yang ditunggu-tunggu sama kita. Sudah lama banget !!” Sambung Welma, sahabat karibku.

Oh yaah,, kenalin nama aku Grazemasua Radian Hadiwibowo. Aku berumur 17 tahun tepat tanggal 17 Agustus ini. Wuiihhh,, aku udah Gede yah ?? Hari ini adalah hari terakhir kami sekolah menjelang liburan akhir tahun. Kebetulan aku pulang sekolah bareng sahabat-sahabat aku yang tergabung dalam D’Donnees. Kata itu  kami ambil dari bahasa Prancis. Selain Welma, anggota lainnya adalah Melvhi, Syarah, dan Nenda.

Rencananya kami mau ngumpul-ngumpul dulu di base camp sambil makan ice cream, makanan favorit kami. Base camp ? emang punya ? Yah, jelas punya ! Base camp kami ada di belakang rumahku. Rumah pohon terindah diatas pohon Rambutan di halaman belakang. Dari luar yah emang kayak rumah pohon biasa. Tapi, lihat dulu dong dalamnya. Interiornya kami desain sendiri loh !!

Dengan dinding dalam yang berwarna merah muda yang cute banget. Ditambah corak polkadot biru langit di bagian bawahnya. Berbagai macam photo D’Donnees sudah tergantung di setiap sisi. Berhubung kami suka bertualang. Jelas banyak sekali photo-photo kami di daerah asing. Tapi, yang pasti sangat indah. Selain itu, aku juga menyediakan beberapa perabotan didalamnya. Kebetulan Mami aku mendukungnya, agar aku tambah rajin belajar. Maklum, bentar lagi mau UAN.

Dengan ruangan berukuran lebih kurang 2×3 meter. Kami menatanya sedemikian rupa sehingga sangat nyaman untuk di tempati. Tak jarang kami tidur disana setiap malam minggu ataupun malam-malam liburan, seperti sekarang. Makanya, Mami sudah membelikan kami bantal yang empuk-empuk + kasur tipis merah muda yang bisa dilipat-lipat. Kalo haus, Mami sudah membelikan kami 1 buah Dispenser dan satu buah kulkas kecil yang senantiasa diisinya dengan makanan dan minuman.

Kalo panas, Mami juga sudah mengantisipasinya dengan memasang 1 buah kipas angin di atas ruangan. Kalo mau nyuci, mesin cuci juga ada. Kalo pengen masak, peralatan dapur juga ada kok. Kalo sepi, bisa ngiduppin radio atau tape yang dibawain Papi dari Yogyakarta saat Papi pulang bertugas. Meskipun, banyak peralatan elektroniknya. Kami bilang STOPP pada Televisi.  Kami di situ mau ngobrol-ngobrol, bukan nonton yang merenggut banyak perhatian dari kami, sehingga kami cenderung diem-dieman  keasyikan nonton. Sebagai gantinya, aku minta Papi menyediakan 1 buah rak kecil untuk menata perpustakaan mini kami. Isinya kami yang cari sendiri ke Gramedia, atau kadang Papi dan Mami juga sering nyumbangin buku. Lumayaaaannn….

“Hmmbb, akhirnya sampai juga yah… Stok Ice cream masih banyak kan Graze? Soalnya, kami udah rencana nginep di sini !!! Hahahahaaa,,” Tawa sahabat-sahabatku sudah meledak saat kami turun dari mobil. “Halaah, bohong ! Kalian kan gak bawa baju !” Aku berlalu meninggalkan mereka memasuki rumah. “Iiihh, siapa bilang kami gak bawa baju. Tanya aja sama supirmu apa yang kami masukkan ke bagasi mobilmu waktu kamu lagi ke WC ??”. Saat aku menatap Pak Danang, dia tersenyum. Pandanganku pindah ke sahabat-sahabatku. “Yyyeeiii,, kalian kok gak bilang-bilang? Aku seneng banget tau ! Yuk, buruaan !!” Aku menarik mereka ke dalam rumah.

Akses menuju Doppi ( Nama basecamp ) hanya melalui dalam rumah, maklum rumah ku melebar menutup seluruh kemungkinan jalan ke belakang. Sengaja, supaya bagian belakang aman dan tertutup dari depan. “Lho.. sudah pada pulang ?” Mamiku kaget melihat kami ber-5. “Iyaa Tantee… Kami mau nginep…” Teriak Melvhi sembari berlari. Mamiku hanya tersenyum melihat kami seperti itu. Dia sudah terbiasa dengan tingkah kami.

“Tarraaaa…., Kemarin waktu ke Solo, Mami belikan kita batik asli Solo, sengaja di cariin warna yang seragam buat dijadiin Gorden. Semalam baru dipasang… Gimana ? Bagus kan ?” Ucapku belagak sok pamer, bercanda. “Busyett…! Bagus banget Graze, jadi lebih asyik liatnya. Tambah mantap aj Doppi kita nhiy !” Puji Syarah. Aku senyum-senyum sendiri.

Setelah ganti baju santai, kami segera saja membereskan barang-barang sekolahan tadi. Sepatu-sepatu kami letakkan di rak sepatu di sudut beranda. Lalu, bajunya kami cuci dan langsung dikeringin, trus di jemur di teras belakang. Ada jemuran yang cukuplah buat kita ber-5. Setelah beres semuanya, baru kita stand bye di sebelah lemari buku. Menikmati ice cream coklat yang disiapkan Welma, sambil dengerin musik yang di steel dari Laptop Nenda. Berhubung kita Vierrania, kami lagi dibuai sama suaranya Widi di lagu ‘TERLALU LAMA’.

Dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang masuk melalui 3 jendela mungil di depan, di belakang, dan di samping kanan di sebelah kulkas. Kami mulai obrolan ringan kami, “Emmb,, temen-temen.. Liburan kita kan lumayan panjang nhiy ! Bosaan kalo di rumaaah ajaa. Emang sih kalo di Doppi gak bosen, tapi kan pengen yang lebbihh gituu…” Aku mengutarakan isi hatiku. Lama mereka tidak ada respons, malah asyik dengan ice cream masing-masing.

“Iiiihhh,, kalian nhiy denger gak aku ngomong apa barusan ? Malah cueek gitu !” Aku geram dan mencubit tangan mereka. “Oww, sakit Graze.. Iyah kami denger kok.. Kami aja lagi nunggu kelanjutan omongan kamu. Malah nyubit, sakit tau ! Ayo, lanjutkan !” Jawab Welma seketika. “Upps, maaph, kiraen kalian gak dengerin. Soalnya kalian gak respons sih !” Aku tertunduk lesu.

“Yaudah, gak papa kok Graze.. biasa aja deh ! Kita gak papa kok, jangan merasa bersalah sampe nunduk gitu dong.. Ayoo lanjutin ceritanya.” Hibur Melvhi dengan senyum manisnya. Aku langsung mengangkat wajah tanpa rasa bersalah, “Emang siapa yang merasa bersalah ? Orang lagi bales SMS-nya Radith kok.” Aku menunjukkan BlackBerry touchscreen baruku.

Tatapan mereka berubah kejam, tiba-tiba.. “Graze…..!!!!” Ow, help me, dia menyerangku. “Hahaha, udahan lah ! Geli !” mereka tau saja kalau aku tuh orangnya penggeli. Setelah puas melihat aku tersiksa, mereka tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, rasain tuh.. makanya jangan usil.” Gelagak Syarah sampai suaranya tidak jelas. “Jadi gimana ? Kita ada rencana camping atau liburan ke luar kota gitu gak ? Ajak anak-anak yang biasa ikut kita tuh..” Aku kembali memulai pembicaraan.

Sahabat-sahabatku termenung sesaat, lalu mencetuslah suara Syarah, “Haaa!!! Gimana kalo kita pergi ke Villa Melvhi aja, kan Melvhi punya Villa didaerah puncak.” Segera saja mata kami tertuju ke Melvhi. Maklum, Melvhi agak Linglung orangnya. “Kalian ngapa liatin aku ? Aku cantik yah ? Oh yaah, niy baju nyah baru loh di beliin Mama.. J” Ceplas-ceplosnya saat kami menatapnya. “Adduh Melvhi… Kamu gak dengerin yah kami ngomong ?” Welma bertanya dengan tegas.

“Emang kalian ngomong apa ? Aku kan lagi asyik menikmati ice creamnya. Kalian ini ganggu saja.” Jawabnya polos dan melanjutkan makannya. Kami yang geram memelototinya, tiba-tiba dia tersenyum manis kepada kami. “Hehe, apa ? Kalian ngomong apa tadi ? Ulang lah, tadi Melvhi lagi gak konsen.” Ucapnya lembut.

“Kata Syarah kamu punya Villa di Puncak yah ? Kok gak bilang-bilang ?” Nenda bertanya dengan sangat semangat. “Oooh, iah Melvhi punya Villa di Puncak, tapi sudah lama Melvhi gak pernah kesana lagi, terakhir kali Melvhi kesana waktu Melvhi umur 5 tahun. Itu berarti Sudah 12 tahun gak pernah kesana.” Jelasnya panjang lebar.

“Tapi kamu masih ingat kan letaknya dimana ?” Tanyaku ingin tahu. “Oh, masih dong.. Ingatanku waktu itu kan kuat banget !” Katanya sok iyyes. “Disana masih ada yang jaga gak ?” Tanya Nenda tiba-tiba. “Emm, setahu Melvhi sih ada.. Kakek Oyong namanya.” Jawabnya seketika.

Jam 7 malam, setelah makan malam bersama di beranda depan Doppi, kami langsung duduk manis di atas kasur yang sudah kami tata sedemikian rapinya. Awalnya kami duduk melingkar. Dengan kacang Atom + kulit di tengah dan 5 botol Pulpy Orange kesukaan kami. Segera saja kami memulai obrolan kami yang sangat seru. “Hmmmb, gimana rencana kita tadi ?” Aku memulai pembicaraan.

“Yah jelas jadi doong. Hayyoo mau berangkat kapan ?” Welma meyakinkan. “Gimana kalo lusa, besok kita buat persiapannya. Lusa berangkat.” Syarah menyarankan. “Boleh,boleh siapa aja yang mau diajak ?” Nenda menanyakan kepastiannya. “Radith doong tentunya. Kan kalo dia ikutan kita bisa naik hartopnya kesana… Lumayan dapat kendaraan.” Teriakku.

“Yyyee.. kamu mah jelas gak mau ketinggalan doong Radithnya !”Welma menindas. Setelah kami pikir-pikir. Kami akan berangkat kira-kira 2 mobil. Setelah di SMS yah hanya segitu yang masih stay di tempat, yang lain udah pada minggat. Selain kami berlima + Radith, kami juga ngajak 2 temennya Radith, Marko dan Aldo. Yang 4 lagi tuh teman sekelas kami. Yedika, Eldra, Narnia, dan Andara.

Setelah selesai membicarakan liburan, mata kami menjadi sangat berat. Posisi melingkar tadi sudah berubah menjadi posisi tidur yang sudah kami susun tadi. Nenda, Welma, Aku, Melvhi dan Syarah. Aku langsung mengunci pintu Doppi depan dan belakang saat mata sudah memerah. Dan segera saja setelah kami berbaring, jiwa pun melayang.

Hari yang direncanakan sudah ada di depan mata. Aku sudah meminta izin dengan Mami dan Papiku, makanya Papi sengaja gak berangkat ke Kantor untuk mengantar keberangkatanku.

“Tuh, Mobilnya sudah datang, Graze pergi dulu yah, Mi.. Pi.. Doain Graze baik-baik saja. Ok !!” Aku mencium tangan mereka satu persatu. “Iyah deh, sayaang… Pokoknya hati-hati saja.. jangan lupa sholat dan berdoa.” Mami berpesan. “Gak usah terlalu khawatir Om, Tante.. Tenang aja.. ada Radith kok yang jagain..” Radith keluar mobil mengangkat koperku masuk ke bagasi. “Iyah deh,dith.. Kalo sudah ada Radith Tante sama Om pasti tenang kok, yakan Pi ?” Mami tersenyum manis sambil mengusap bahu Radith.

“Iyah… Jagain Graze yah,dith… Yang bener jagainnya..!!” Papi menepuk-nepuk bahu Radith, Radith hanya cengengesan. “Ehemb, kalo udah ngobrol sama mertua.. lamaa yah ? Gak jadi berangkat nih kayaknya.” Welma menyindir. Radith langsung mengelak, “Ahh.. ada-ada saja Welma nih..” Matanya melotot ke arah Welma. “Hahahaaa… iyaah lah.. biar akrab antara mertua dan menantu.” Papi tertawa terbahak-bahak. “Yasudah, Graze beerangkat yah.. Dada.. Love you all.” Aku melambai dan memasuki mobil. Radith mengklakson sekali dan langsung tancap gas.. Kami berangkat.

“Yyeeii,, kok gak dari dulu sih kita liburan ke villanya Melvhi ? Kamu sih Mel, gak bilang dari dulu. Padahal kan seru tuh liburan ke villa !” Cerocos Welma tak henti-hentinya. Melvhi yang sedang disindir tidak mendengarkannya. Entah disengaja atau tidak aku tidak tahu.

“Tau tuh Melvhi, kan paling enak liburan di villa.. Ya gak Graze ??” Radith tiba-tiba mengiyakan perkataan Welma. “Jelas dong, udah lama aku pengen liburan ke villa.. Tapi, berhubung gak punya villa yah terpaksa deh.. Gak kesampean tuh keinginan..” Aku cemberut namun tersenyum.

“Yaudaah,, besok kita beli villa yah bebbh… biar bisa sering-sering liburan ke villaa.. setuju gak ??” Radith memandangku sambil tersenyum manis. Aku jadi malu sendiri. Mungkin dia bisa melihat pipiku memerah. Tapi, aku yah diam saja. Tidak mau menampakkan rasa maluku terhadap teman-temanku. Terkadang Radith memang suka seperti itu.

Hmmb, bernyanyi sambil bercanda membuat waktu terasa begitu cepat, sehingga tiba-tiba saja sudah sampai ke area villa Melvhi. Suasananya begitu gelap, seperrtinya akan turun hujan. Ditambah udara dingin area puncak, huuhhh,, rasanya tangan ini berubah menjadi beku. “Yapp, akhirnya sampai juga… Hmmbb, sudah tidak sabar… Pengen masuk..” Syarah yang paling bersemangat langsung berlari menuju teras villa. Kami pun menyusul setelah Radith memarkirkan hartopnya. “Oh iyah Mel, kamu sudah hubungin penjaganya kan ??” Tanya Nenda tiba-tiba. “Astaghfirullah, lupa !! Beneran lupaa Melvhi !! Jadi gimana ini ??” melvhi membuat suasana menjadi panik. Kami semua saling tatap-menatap. “Kok bisa lupa sih Mel ??” Marko yang baru keluar dari mobil tiba-tiba bertanya. “Yah tulah, Melvhi lupa.. mau gimana lagi ??” Melvhi merasa bersalah.

“Melvhi nih.. selalu lah kayak gini.. Pelupanya gak ilang-ilang !! Jadi gimana sekarang ??” Aku bertanya agak membentak. Tapi, segera aku redamkan kemarahan mengingat dia adalah sahabatku. “Yah, maaf dong.. Kan Melvhi gak sengaja lupa.. Tapi, tenang.. Melvhi tau rumahnya kok. Mau kesana ??” Tanya Melvhi sambil tersenyum lebar. Apa boleh buat ?? Kami pun mengikuti Melvhi berjalan ke arah jalan setapak.

Dasar Melvhi, ternyata rumah penjaga villa itu berjarak 100 km dari villa, alias di sebelah kandang kuda. Kuda Melvhi juga sih.. banyak Kudanya Melvhi ternyata. Pantesan dia tenang-tenang saja, rupanya penjaganya gak jauh rumahnya. Alhasil, tak lama kemudian, kami sudah duduk-duduk di beranda atas villa itu. Tapi, kami merasakan ada yang aneh sama penjaganya. Entah kenapa, dia gak ramah sama sekali sama kami, bahkan sama Melvhi yang tuannya sendiri. Dasar penjaga kurang ajar, kalu aku sih aku pecat aja tuh orang.

“Emmb, sayaang.. Kamu merasakan keanehan gak sama penjaga villanya ??” Tiba-tiba Radith membuka pembicaraan. Aku yang sedang asyik membaca komik pemberian Radith tiba-tiba tersentak. “Haa ?? emmb, iyah sih dith, aku juga ngerasa ada hal yang aneh sama penjaganya, kirain aku doang yang ngerasain.” Aku membenarkan perkataan Radith. Karena merasakan hal yang sama, kami Saling berpandang-pandangan, tidak mau berprasangka buruk dulu lah. Please, POSITIVE THINKING !!

Malam tiba-tiba saja datang, kami sedang mengadakan pesta barbeque di halaman depan villa. Hmmn, sangat-sangat mengasyikkan, makan makanan yang serba dibakar di suasana sedingin ini, serasa di Korea. Setelah mata terasa berat, tepatnya jam 23.00, akhirnya kami masuk ke kamar masing-masing. Berhubung di situ Cuma ada 3 kamar. Jadi kami tidur bersama-sama. Cowok sama cowok, cewek sama cewek. Tapi, ceweknya kami bagi dua, dan tentunya D’Donnees gak boleh dipisahkan. Kami tidur sempit-sempitan, sampai-sampai Nenda dan Syarah rela tidur dibawah karena gak tahan. Dan yang pasti, aku tetep di posisi tengah.

Tepat jam 12 malam, aku dikagetkan dengan suara jam yang berdentang begitu kuatnya. Aku terbangun karena terkejut, begitu pula dengan teman-temanku yang lain. Melvhi malah langsung refleks memelukku. “Aduuh, Mel.. Kok suara jamnya besar banget sih ??” Aku bertanya pada Melvhi disela nafas yang tersengal-sengal. “Melvhi juga gak tau.. Setahu melvhi sih, dulu gak ada jam yang punya suara sebesar itu. Makanya Melvhi kaget, sampai bisa meluk Graze.” Melvhi menjawab dengan tatapan serius.

Kami berlima saling bertatap-tatapan, serketika itu pula kami dikejutkan oleh suara pintu yang digedor. “Graze… Mel.. siapa aja lah, cepetan bukain pintunya doong !!” Seseorang berteriak dibalik pintu, dan itu adalah suara Andara. “Haa ?? Kenapa ra ?? kok tiba-tiba bangunin kami ??” Aku menjawab sambil turun dari tempat tidur dan menuju pintu, diikuti oleh ke-4 sahabatku. Setelah aku membuka pintu, aku melihat mereka yang sedang ngos-ngosan, Yedika, Eldra, Narnia, dan Andara. Wajah mereka pucat pasi, entah apa yang terjadi. Langsung saja mereka menerobos masuk dan menutup pintu.

“Huh-hah, huh hah.. “ Nafasnya begitu kencang hingga kedengaran oleh kami. “Ada apa sih ra ?? Kenapa Ka, dra, nia ?? Kok kalian ngos-ngosan gitu ??” Tanya Syarah sembari menuntun mereka ke tempat tidur. Nenda mengunci pintu, dan langsung menyodori mereka air putih. “Entah tuh Andara sama Yedika, aku sama Eldra juga gak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja mereka menjerit dan kami tersentak bangun. Lalu, mereka langsung menarik kami keluar kamar.” Narnia menjelaskan. “Ngapa ra ?? Apa yang terjadi ??” Aku kembali bertanya.

“Aduh, aku belum bisa jelasin.. Aku masih deg-degan. Mendingan sekarang salah satu dari kalian nelpon anak-anak cowok. Cepetaan !!” Andara memerintahkan kami melakukan sesuatu yang membuat kami bertambah khawatir. “Apaan sih kalian ini.. Bikin takut kami aja..” Sahut Melvhi sambil menelpon Marko, cowok dedemenannya. “Halo.. Siapa nih ??” Jawab Marko di kamar sebelah dengan suara agak berat. 3 kamar di villa itu memang bersebelahan, tapi rasanya ruangan-ruangannya kedap suara. Sehingga tidak tahu apa yang terjadi di kamar yang lainnya.

“Halo.. Marko ?? Ini Melvhi..” Teriak Melvhi agak berbisik. “Oh, Kamu Mel ?? Kirain siapa.. Soalnya gak baca namanya, hehe.. ada apa yah, Mel ??” Marko langsung menjawab. “Emmb, enggak tahu nih, Ko.. Kami juga masih bingung.. Yang jelas kalian kesini aja dulu lah.. Cepetan yah, sekarang juga.” Melvhi langsung menutup telponnya. Tak lama kemudian, anak-anak cowok datang, “Graze.. Nih kami..” Radith menggedor pintu. Aku langsung berdiri dan membukakan pintu, mempersilahkan mereka masuk dan mengunci pintunya kembali.

Setelah semua berkumpul. Kami duduk saling berdekatan. Bertumpuk di atas kasur. Radith segera duduk di sebelahku. Aku pun duduk bersandar sambil memeluk bantal. “Ada apa sih ??” Radith bertanya-tanya, tampaknya dia sangat penasaran. “Tanya saja sama Andara, kami juga masih bingung.” Aku menjawab dengan singkat. Radith memandang Andara sambil mengerutkan dahi, Andara pun menarik nafas panjang demi menenangkan dirinya, Dia pun memulai ceritanya.

“Awalnya, aku juga gak terlalu yakin sama apa yang sudah aku lihat, aku kira aku sedang bermimpi. Tapi, setelah aku mendengar Yedika menjerit, aku pun menjerit. Dan aku yakin kalau yang aku lihat itu bukan mimpi.” Andara menelan ludah. “Emang kamu lihat apa ?? Tanya Aldo. “Aku gak sanggup jelasinnya. Aku takut! Tanya saja sama Yedika.” Andara memeluk Eldra. “Apa Ka ?” Tanya Aldo sekali lagi. “Aku lihaatt……. Aku lihat sesosok makhluk di jendela kamar kami. Aku takut !” Yedika menangis dan menutup wajahnya. Haa ?? Kami pun terkejut bersamaan, sesosok makhluk ?? Yang bener saja, makhluk apa ?? Aku jadi deg-degan. Tak sengaja aku menggenggam tangan Radith, radith pun menggenggamnya penuh kehangatan.

“Ahh.. Yang bener saja lah.. Melvhi takut nih.. Gimana kita mau pulang coba nih ??” Melvhi merengek menarik tangan Syarah. Namun, “Uupss.. apa itu ?” Nenda terkejut mendengar suara pintu dibanting. Pintu kamar Andara sepertinya. Kami saling berpandang-pandangan. Refleks kami semakin saling mendekat, tak perduli itu cowok atau cewek, yang penting rasa takut ini bisa berkurang, walaupun sedikit. Radith yang tahu bahwa aku mulai ketakutan, langsung saja memelukku dan menghangatkan diriku yang mulai membeku dilanda rasa takut. “Kamu gak papa kan sayang ?? kamu kedinginan ??” Radith bertanya kepadaku.

Suasana semakin mencekam, aku dan teman-temanku semakin ketakutan. Apa yang bisa dan harus dilakukan untuk hilangkan semua rasa takut ini ?? Semua seakan kehilangan jiwanya, entah kemana perginya. “Mana semua keberanian kalian ? Apa yang sedang kalian lakukan ?” Aldo tiba-tiba saja berdiri dan berteriak. Kami tersentak kaget. Serentak kami memandangnya, Aldo pun segera menarik tangan Radith dan Marko. “Ayoo.. Kita disini ghak salah.. kita ghak ganggu !! Kita di sini orang beragama, ngapain coba kita takut ??” Kata-kata Aldo langsung saja membuat darah kami seperti mengalir kembali, dengan percaya diri kami pun berdiri dan saling bergandengan tangan.

“Aminn…” Ucapku setelah Radith selesai membaca doa, berharap apa yang akan kami lakukan mendapat rahmat dari Allah. Perlahan-lahan kami membuka pintu dan, WwuUusshHhh…. angin kencang yang dingin menerpa wajah kami semua. Suasana yang sangat-sangat tidak bersahabat. Dingin, gelap mencekam, dan diwarnai suara-suara yang sangat-sangat aneh. Tak sengaja kami melihat Pak Penjaga Villa, saat dia memandang kami, dia langsung berlari mencoba menghindari kami. Radith dan Marko segera mengejarnya, sedangkan Aldo dan kami para cewek, mencoba mencari jalan keluar yang seakan-akan menghilang di telan bumi.

“Alhamdulillaah….. Ya, Allahh…. Akhirnya kita bisa keluar dari tempat ini !! Sial,, entah apa-apa yang terjadi !! Aku benci,,” Yedika mengumpat segalanya.

“Sabar dong dika.. Kita semua kan gak pengen ini terjadi, apalagi sampai merusak acara liburan bareng kita.. Tapi yah mau gimana lagi.. toh, ini terjadi dengan sendirinya, untung kita selamat.” Ucapku menasihati Yedika sambil mengistirahatkan lututku yang melemas. Kami semua terdiam menunggu kabar dari Radith dan Marko, dengan perasaan harap-harap cemas. Apa yang terjadi dengan mereka ? Kenapa harus selama ini ? Aldo yang tidak sabar, mencoba menyusulnya, namun Melvhi tidak memperbolehkannya. Ya, jika Aldo ikut pergi, dengan siapa kami para cewek ?

Tak lama kemudian, Radith dan Marko muncul dengan membawa pak penjaga. Kami langsung berlari menyambutnya. “Syukurlah, kalian gak papa kan ? Kenapa lama sekali ?” Aku yang sangat khawatir dengan keadaan mereka, malah menyerang mereka dengan beribu pertanyaan.

“Tenang.. Kami gak papa kok.. Untung saja penjaga ini berhasil kami tangkap ! Dia mencoba kabur.. Sekarang jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi !” Radith mulai mengintrogasi.

“Ampun… Maafkan saya Non Melvhi…” Ucap penjaga itu sambil gemetaran. “Saya tidak bermaksud Non.. Saya hanya tidak mau Non datang kesini lagi.. Saya telah melakukan kesalahan. Maafkan saya Non..” Jelas penjaga itu.

“Maksudnya ? Melvhi gak ngerti..” Melvhi langsung menggeleng kuat. “Ngomong yang jelas !! Ayo lanjutkan..” Marko menyentak Pak penjaga itu.

“Saya tidak bermaksud Non.. Untuk mengusir Non dari villa ini.. Hanya saja, Saya takut Non akan melaporkan saya ke polisi atau ke Orang tua Non.. Saya takut Non..” Jelasnya lagi.

“Kami masih belum mengerti, Pak. Ceritakan saja semuanya.. Tidak usah takut..” Aku mencoba menenangkannya.

“Begini ceritanya, Non tau kan saya punya anak laki-laki ? A,Anak saya itu sudah berkeluarga.. Dia dan istrinya saya ijinkan untuk tinggal di villa ini tanpa sepengetahuan Pak Andre, Ayah Non Melvhi. Itu kesalahan pertama saya..”

“Lalu, 1 tahun kemudian, menantu saya akan melahirkan.. Malam itu, anak saya pulang dalam keadaan sakaw.. Ternyata dia memakai Narkoba.. Saya yang mencoba menenangkannya ternyata malah membuat dia semakin brutal. Itu kesalahan kedua saya..” Dia menghela nafas panjang.

“Dan.. Dan.. Dan tanpa sengaja dia mendorong istrinya dari balkon atas, dan terjatuh tepat di dalam kolam itu.. Dan langsung meninggal dunia.. Saya, Sa..Saya tidak bisa mengelakkan kejadian itu.. Saya sangat terpukul, Anak saya juga meninggal karena sakaw di malam itu. Saya.. Orang tua yang bodoh ! Itu kesalahan saya yang paling besar..” Pak penjaga itu pun menangis meraung-raung.

Kami merasa semakin gelisah setelah mendengar cerita bapak itu, perasaan kami tidak karuan. Suasananya pun semakin mencekam. Melvhi merasa tidak percaya, villa-nya ternyata menyimpan rahasia yang menakutkan.

“Maafkan saya, Non… Saya memang sangat bodoh !!” Pak penjaga itu bersujud di hadapan Melvhi. “Kenapa bapak tidak mengatakan hal ini kepada Papa melvhi ? Kenapa bapak merahasiakan hal ini ? Itu yang Melvhi gak suka..” Melvhi merasa kecewa. “Iya,pak.. Melvhi benar, kenapa bapak hanya memendam semua ini sendirian ?” Aku mengiyakan perkataan Melvhi.

“Saya takut Non.. Saya takut, Saya adalah seorang pembunuh !! Saya takut dilaporkan ke polisi.. Penyebab kematian mereka adalah aku !! Aku hanya bisa diam saat melihat kejadian itu.. huu.huu.huuu,,” Tangis bapak itu.

“Lalu, bagaimana solusinya ?” Celetuk Welma. “Kenapa bapak tidak menginginkan kami ada disini ?” Welma  penasaran. “Mereka.. mereka berdua.. akan menghantui kalian, selama kalian berada disini. Saya tidak mau kalian kenapa-kenapa.” “What ??????????????? Mereka gentayangan di villa aku ??????????????” Melvhi terkejut setengah mati. “Iya, Non..”

Oh, No !!!!!!!!!! Itu yang terlintas di pikiran kami semua. Yang benar saja, villa sebesar dan semegah ini di huni hantu ???????? Kami sangat-sangat tidak percaya, kami terbengong-bengong dan sedikit merinding ketakutan, bagaimana kalau tiba-tiba dia muncul dan… waaa !!!!!!!!!!!!!!!! Kami tidak bisa membayangkannya. Saat kami dipenuhi dengan khayalan kami masing-masing, tiba-tiba..

“Dek.. Jangan percaya sama bapak saya,yah..” Seseorang muncul dari sisi kanan villa. Seorang laki-laki bertubuh tinggi mengagetkan kami, “Dia itu terkena gangguan jiwa. Semua yang diceritakan dia itu bohong belaka.. Saya anak yang dicerotakan oleh dia tadi..” kami berubah ekspresi. “Stopp !! Jangan takut.. Saya belum mati.. Saya masih hidup, itu istri saya dan anak saya..” Seorang wanita yang sedang menggendong bayi muncul dan menyapa kami, “Hai…”

Setelah bercerita panjang lebar di ruang utama villa, Tante itu pun menyiapkan minuman hangat untuk kami semua. Sedangkan bapak penjaga itu, diistirahatkan di rumahnya bersama istrinya. Anak bapak itu berkata, bahwa bapaknya terlalu stres memikirkan adik perempuannya yang kabur meninggalkan rumah bersama suaminya. Dia jadi sedikit frustasi, Mereka sudah berusaha mengobatinya. Tetapi, hasilnya sama saja malah bertambah parah. Dia selalu saja mengarang cerita-cerita yang tidak masuk akal dan selalu saja menakut-nakuti orang. Apa yang kami lihat tadi malam itu, itu adalah tipu dayanya. Mereka tahu saat dia mengambil mukena istrinya dan mengikatnya di batang galah. Sungguh bapak yang malang.

Hmm, Ternyata semua itu hanyalah sensasi belaka. Padahal, jantung kami sudah serasa mau copot. Tetapi, Alhamdulillah kalau begitu jadi liburan kami kali ini gak rusak dong, malah suatu pengalaman baru. Melvhi merekomendasikan Bang Wawan, Anak pak penjaga sebagai penjaga villa yang baru. Kami semua menyetujuinya. Malam itu, kami tidak bisa tidur. Kami berbincang-bincang dan bercanda sampai adzan shubuh berkumandang. Bang Wawan dan istrinya juga merasa senang dengan kedatangan kami. Mereka menemani kami ngobrol semalaman suntuk. Sesekali Melvhi melucu dengan merayu-rayu Marko, cowok idamannya. Membuat kami tertawa terbahak-bahak. Aku dan Radith pun tersenyum bahagia, bisa melewati malam bersama dan penuh kehangatan.

Setelah menunaikan sholat shubuh, kami maraton bersama berkeliling desa. Suasana yang indah, udara dingin tidak menghilangkan semangat kami menunggu matahari terbit di tengah perkebunan teh. Bang Wawan pun menyertai kemanapun kami pergi. Kami merasa sangat-sangat bahagia. Tidak lupa, kami berphoto-photo ria memanfaatkan keadaan. Kapan lagi bisa kayak gini ? Keep Smile… Happy Holiday Time, J

CERPEN INI DIDEDIKASIKAN UNTUK SAHABAT-SAHABATKU,

MELLA.. SITI.. OCY.. WINDY.. DAN AKU.. AMANDA..

INI HANYA FIKTIF BELAKA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!   J AMBIL POSITIFNYA AJA,,

BY : AMANDA AYUNINGTIYAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s