Jean Piaget (1896 – 1980)

Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel (Switzerland) pada tanggal 9 Agustus 1896 dan meninggal di Geneva dalam usia 84 tahun pada tahun 1981. Pada usia 10 tahun ia sudah memulai karirnya sebagai peneliti dan penulis. Piaget sangat tertarik pada ilmu biology dan ia menulis paper tentang albino sparrow (burung gereja albino)yangsemakin membuatnya tertarik untuk mendalami ilmu alam.  

Piaget memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1918 di universitas Neuchatel dalam bidang ilmu hewan. Pada tahun 1925 ia mulai menunjukkan minatnya pada bidang filsafat dan pada tahun 1929 ia diangkat menjadi profesor dalam “Scientific Thought” di Jeneva. Ia mulai terjun dalam dunia psikologi pada tahun 1940 dengan menjadi direktur laboratorium psikologi di Universitas Jeneva. Lalu kemudian ia juga terpilih sebagai ketua dari “Swiss Society for Psychologie”.

Piaget adalah seorang tokoh yang amat penting dalam bidang psikologi perkembangan.Teori-teorinya dalam psikologi perkembangan yang mengutamakan unsur kesadaran (kognitif) masih dianut oleh banyak orang sampai hari ini.

Selama masa jabatannya sebagai profesor di bidang psikologi anak, Piaget banyak melakukan penelitian tentang Genetic Epistemology (ilmu pengetahuan tentang genetik). Ketertarikan Piaget untuk menyelidiki peran genetik dan perkembangan anak, akhirnya menghasilkan suatu mahakarya yang dikenal dengan nama Theory of Cognitive Development (Teori Perkembangan Kognitif).

Dalam teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal. Teori ini tidak hanya diterima secara luas dalam bidang psikologi tetapi juga sangat besar pengaruhnya di bidang pendidikan. 

Piaget menemukan empat tahap pertumbuhan mental saat mempelajari anak-anak, terutama anaknya sendiri: tahap motor-sensoris, dari lahir hingga usia 2 tahun, saat struktur mental terfokus pada objek konkrit (nyata); tahap praoperasional, usia 2 — 7 tahun, saat anak-anak belajar simbol-simbol dalam bahasa, khayalan, permainan, dan mimpi; tahap operasional konkret, usia 7 — 11 tahun, saat anak-anak menguasai klasifikasi, relasi, angka, dan cara pikir (mengambil kesimpulan) tentang mereka; terakhir adalah tahap operasional formal, sejak usia 11 tahun, saat mereka mulai menguasai pemikiran independen dan pemikiran orang lain.

Piaget percaya bahwa pemahaman anak-anak setidaknya melalui tiga tahap pertama yang berbeda dari orang dewasa, yaitu didasarkan pada keaktifan mereka menjelajahi lingkungan daripada pemahaman bahasa. Pada tahap-tahap ini, anak-anak secara alami belajar tanpa dimotivasi hukuman atau hadiah. Piaget melihat sifat dasar (keturunan atau karakteristik yang diturunkan oleh orang tua) dan pemeliharaan (lingkungan) sangat berhubungan dan sama-sama penting. Dia menemukan bahwa gagasan-gagasan anak-anak tentang alam tidak diturunkan dari orang tua atau pun dipelajari, namun terbentuk dari struktur dan pengalaman mental mereka. Pertumbuhan mental terjadi karena integrasi, atau mempelajari gagasan-gagasan yang lebih berat dengan menyerap gagasan-gagasan yang lebih mudah dipahami, dengan pergantian, atau menggantikan penjelasan awal tentang suatu kejadian atau ide, dengan penjelasan yang lebih masuk akal. Anak-anak belajar pada tahap spiral pemahaman yang menuju ke atas, yang disertai oleh masalah yang sama pada setiap tahap. Namun demikian, semakin naik tahap tersebut, semakin menyeluruh pula penyelesaian dari masalah tersebut.

Psikolog Harvard, Jerome Bruner (1915), dan psikolog lainnya memerkenalkan gagasan Jean kepada Amerika Serikat sekitar tahun 1956, setelah buku-bukunya diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Tujuan pendidikan Amerika pada akhir 1950-an yang adalah untuk mendidik anak tentang bagaimana berpikir, timbul karena gagasan Piaget. Teorinya mengenai tahap perubahan pemikiran dan kedewasaan anak berasal dari percobaan-percobaan dengan anak-anak. Gagasan itu juga sering digunakan dalam teori respons-stimulus (membuat senang untuk mendapatkan tanggapan) oleh para psikolog behavioris (psikolog yang mempelajari tingkah laku) yang meneliti cara binatang mempelajari sesuatu.

Teori Piaget terus berkembang selama bertahun-tahun. Banyak penjelasan lain diungkapkan dan percobaan lain dilakukan, namun semuanya itu tidak mengubah dasar pemikiran dari teorinya.

KEUNGGULAN
Keunggulan dalam pembelajaran adalah :

  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
  3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
  4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
  5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

 
KELEMAHAN
Dari segi kelemahan teori ini adalah:

  1. Menyatakan bahwa teori Piaget tidak mampu menjelaskan struktur, proses dan fungsi kognitif dengan jelas.
  2. Tidak adanya kebenaran wujud dari empat tingkat perkembangan kognitif yang direkomendasikan oleh Piaget (Gelman dan Baillargeon, 1983). Dapat dikatakan masa anak-anak melalui setiap tingkat perkembangan kognitif berbasis set operasi yang khusus, maka saat anak tersebut berhasil memahirkan set operasi tertentu, mereka seharusnya juga dapat menyelesaikan semua masalah yang membutuhkan set operasi yang sama.
    Misalnya, ketika anak menunjukkan kemampuan konservasi yaitu yang terdapat pada tahap operasi konkrit, maka berdasarkan teori Piaget, dia seharusnya dapat menunjukkan kemampuan konservasi dalam angka dan berat pada waktu yang sama. Namun, dalam penelitian yang dilakukan oleh Klausmeier dan Sipple (1982) menunjukkan kondisi yang berbeda di mana anak-anak selalu menunjukkan kemampuan konservasi berat lebih lewat dari konservasi angka. Kondisi ini adalah bertentangan dengan teori Piaget.
  3. Dari segi metodologi ini, metode klinis yang digunakan dalam penelitian Piaget di mana penelitian dengan metode klinis sulit untuk diulang. Jadi, kesahihannya adalah diragukan. Pengkritiknya juga menuduh Piaget membuat generalisasi dari sampel-sampel yang ukurannya terlalu kecil dan tidak memenuhi standar.

OH, NO !!!

“Uuuhh,, senengnya akhirnya libur juga deh Sekolahnya. Akhirnya bisa refreshing !!” Ucapku setelah memasuki mobil pribadiku. Mobil Honda Jazz pink kesayanganku. “Jelas doong Graze, ini kan saat yang ditunggu-tunggu sama kita. Sudah lama banget !!” Sambung Welma, sahabat karibku.

Oh yaah,, kenalin nama aku Grazemasua Radian Hadiwibowo. Aku berumur 17 tahun tepat tanggal 17 Agustus ini. Wuiihhh,, aku udah Gede yah ?? Hari ini adalah hari terakhir kami sekolah menjelang liburan akhir tahun. Kebetulan aku pulang sekolah bareng sahabat-sahabat aku yang tergabung dalam D’Donnees. Kata itu  kami ambil dari bahasa Prancis. Selain Welma, anggota lainnya adalah Melvhi, Syarah, dan Nenda.

Rencananya kami mau ngumpul-ngumpul dulu di base camp sambil makan ice cream, makanan favorit kami. Base camp ? emang punya ? Yah, jelas punya ! Base camp kami ada di belakang rumahku. Rumah pohon terindah diatas pohon Rambutan di halaman belakang. Dari luar yah emang kayak rumah pohon biasa. Tapi, lihat dulu dong dalamnya. Interiornya kami desain sendiri loh !!

Dengan dinding dalam yang berwarna merah muda yang cute banget. Ditambah corak polkadot biru langit di bagian bawahnya. Berbagai macam photo D’Donnees sudah tergantung di setiap sisi. Berhubung kami suka bertualang. Jelas banyak sekali photo-photo kami di daerah asing. Tapi, yang pasti sangat indah. Selain itu, aku juga menyediakan beberapa perabotan didalamnya. Kebetulan Mami aku mendukungnya, agar aku tambah rajin belajar. Maklum, bentar lagi mau UAN.

Dengan ruangan berukuran lebih kurang 2×3 meter. Kami menatanya sedemikian rupa sehingga sangat nyaman untuk di tempati. Tak jarang kami tidur disana setiap malam minggu ataupun malam-malam liburan, seperti sekarang. Makanya, Mami sudah membelikan kami bantal yang empuk-empuk + kasur tipis merah muda yang bisa dilipat-lipat. Kalo haus, Mami sudah membelikan kami 1 buah Dispenser dan satu buah kulkas kecil yang senantiasa diisinya dengan makanan dan minuman.

Kalo panas, Mami juga sudah mengantisipasinya dengan memasang 1 buah kipas angin di atas ruangan. Kalo mau nyuci, mesin cuci juga ada. Kalo pengen masak, peralatan dapur juga ada kok. Kalo sepi, bisa ngiduppin radio atau tape yang dibawain Papi dari Yogyakarta saat Papi pulang bertugas. Meskipun, banyak peralatan elektroniknya. Kami bilang STOPP pada Televisi.  Kami di situ mau ngobrol-ngobrol, bukan nonton yang merenggut banyak perhatian dari kami, sehingga kami cenderung diem-dieman  keasyikan nonton. Sebagai gantinya, aku minta Papi menyediakan 1 buah rak kecil untuk menata perpustakaan mini kami. Isinya kami yang cari sendiri ke Gramedia, atau kadang Papi dan Mami juga sering nyumbangin buku. Lumayaaaannn….

“Hmmbb, akhirnya sampai juga yah… Stok Ice cream masih banyak kan Graze? Soalnya, kami udah rencana nginep di sini !!! Hahahahaaa,,” Tawa sahabat-sahabatku sudah meledak saat kami turun dari mobil. “Halaah, bohong ! Kalian kan gak bawa baju !” Aku berlalu meninggalkan mereka memasuki rumah. “Iiihh, siapa bilang kami gak bawa baju. Tanya aja sama supirmu apa yang kami masukkan ke bagasi mobilmu waktu kamu lagi ke WC ??”. Saat aku menatap Pak Danang, dia tersenyum. Pandanganku pindah ke sahabat-sahabatku. “Yyyeeiii,, kalian kok gak bilang-bilang? Aku seneng banget tau ! Yuk, buruaan !!” Aku menarik mereka ke dalam rumah.

Akses menuju Doppi ( Nama basecamp ) hanya melalui dalam rumah, maklum rumah ku melebar menutup seluruh kemungkinan jalan ke belakang. Sengaja, supaya bagian belakang aman dan tertutup dari depan. “Lho.. sudah pada pulang ?” Mamiku kaget melihat kami ber-5. “Iyaa Tantee… Kami mau nginep…” Teriak Melvhi sembari berlari. Mamiku hanya tersenyum melihat kami seperti itu. Dia sudah terbiasa dengan tingkah kami.

“Tarraaaa…., Kemarin waktu ke Solo, Mami belikan kita batik asli Solo, sengaja di cariin warna yang seragam buat dijadiin Gorden. Semalam baru dipasang… Gimana ? Bagus kan ?” Ucapku belagak sok pamer, bercanda. “Busyett…! Bagus banget Graze, jadi lebih asyik liatnya. Tambah mantap aj Doppi kita nhiy !” Puji Syarah. Aku senyum-senyum sendiri.

Setelah ganti baju santai, kami segera saja membereskan barang-barang sekolahan tadi. Sepatu-sepatu kami letakkan di rak sepatu di sudut beranda. Lalu, bajunya kami cuci dan langsung dikeringin, trus di jemur di teras belakang. Ada jemuran yang cukuplah buat kita ber-5. Setelah beres semuanya, baru kita stand bye di sebelah lemari buku. Menikmati ice cream coklat yang disiapkan Welma, sambil dengerin musik yang di steel dari Laptop Nenda. Berhubung kita Vierrania, kami lagi dibuai sama suaranya Widi di lagu ‘TERLALU LAMA’.

Dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang masuk melalui 3 jendela mungil di depan, di belakang, dan di samping kanan di sebelah kulkas. Kami mulai obrolan ringan kami, “Emmb,, temen-temen.. Liburan kita kan lumayan panjang nhiy ! Bosaan kalo di rumaaah ajaa. Emang sih kalo di Doppi gak bosen, tapi kan pengen yang lebbihh gituu…” Aku mengutarakan isi hatiku. Lama mereka tidak ada respons, malah asyik dengan ice cream masing-masing.

“Iiiihhh,, kalian nhiy denger gak aku ngomong apa barusan ? Malah cueek gitu !” Aku geram dan mencubit tangan mereka. “Oww, sakit Graze.. Iyah kami denger kok.. Kami aja lagi nunggu kelanjutan omongan kamu. Malah nyubit, sakit tau ! Ayo, lanjutkan !” Jawab Welma seketika. “Upps, maaph, kiraen kalian gak dengerin. Soalnya kalian gak respons sih !” Aku tertunduk lesu.

“Yaudah, gak papa kok Graze.. biasa aja deh ! Kita gak papa kok, jangan merasa bersalah sampe nunduk gitu dong.. Ayoo lanjutin ceritanya.” Hibur Melvhi dengan senyum manisnya. Aku langsung mengangkat wajah tanpa rasa bersalah, “Emang siapa yang merasa bersalah ? Orang lagi bales SMS-nya Radith kok.” Aku menunjukkan BlackBerry touchscreen baruku.

Tatapan mereka berubah kejam, tiba-tiba.. “Graze…..!!!!” Ow, help me, dia menyerangku. “Hahaha, udahan lah ! Geli !” mereka tau saja kalau aku tuh orangnya penggeli. Setelah puas melihat aku tersiksa, mereka tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, rasain tuh.. makanya jangan usil.” Gelagak Syarah sampai suaranya tidak jelas. “Jadi gimana ? Kita ada rencana camping atau liburan ke luar kota gitu gak ? Ajak anak-anak yang biasa ikut kita tuh..” Aku kembali memulai pembicaraan.

Sahabat-sahabatku termenung sesaat, lalu mencetuslah suara Syarah, “Haaa!!! Gimana kalo kita pergi ke Villa Melvhi aja, kan Melvhi punya Villa didaerah puncak.” Segera saja mata kami tertuju ke Melvhi. Maklum, Melvhi agak Linglung orangnya. “Kalian ngapa liatin aku ? Aku cantik yah ? Oh yaah, niy baju nyah baru loh di beliin Mama.. J” Ceplas-ceplosnya saat kami menatapnya. “Adduh Melvhi… Kamu gak dengerin yah kami ngomong ?” Welma bertanya dengan tegas.

“Emang kalian ngomong apa ? Aku kan lagi asyik menikmati ice creamnya. Kalian ini ganggu saja.” Jawabnya polos dan melanjutkan makannya. Kami yang geram memelototinya, tiba-tiba dia tersenyum manis kepada kami. “Hehe, apa ? Kalian ngomong apa tadi ? Ulang lah, tadi Melvhi lagi gak konsen.” Ucapnya lembut.

“Kata Syarah kamu punya Villa di Puncak yah ? Kok gak bilang-bilang ?” Nenda bertanya dengan sangat semangat. “Oooh, iah Melvhi punya Villa di Puncak, tapi sudah lama Melvhi gak pernah kesana lagi, terakhir kali Melvhi kesana waktu Melvhi umur 5 tahun. Itu berarti Sudah 12 tahun gak pernah kesana.” Jelasnya panjang lebar.

“Tapi kamu masih ingat kan letaknya dimana ?” Tanyaku ingin tahu. “Oh, masih dong.. Ingatanku waktu itu kan kuat banget !” Katanya sok iyyes. “Disana masih ada yang jaga gak ?” Tanya Nenda tiba-tiba. “Emm, setahu Melvhi sih ada.. Kakek Oyong namanya.” Jawabnya seketika.

Jam 7 malam, setelah makan malam bersama di beranda depan Doppi, kami langsung duduk manis di atas kasur yang sudah kami tata sedemikian rapinya. Awalnya kami duduk melingkar. Dengan kacang Atom + kulit di tengah dan 5 botol Pulpy Orange kesukaan kami. Segera saja kami memulai obrolan kami yang sangat seru. “Hmmmb, gimana rencana kita tadi ?” Aku memulai pembicaraan.

“Yah jelas jadi doong. Hayyoo mau berangkat kapan ?” Welma meyakinkan. “Gimana kalo lusa, besok kita buat persiapannya. Lusa berangkat.” Syarah menyarankan. “Boleh,boleh siapa aja yang mau diajak ?” Nenda menanyakan kepastiannya. “Radith doong tentunya. Kan kalo dia ikutan kita bisa naik hartopnya kesana… Lumayan dapat kendaraan.” Teriakku.

“Yyyee.. kamu mah jelas gak mau ketinggalan doong Radithnya !”Welma menindas. Setelah kami pikir-pikir. Kami akan berangkat kira-kira 2 mobil. Setelah di SMS yah hanya segitu yang masih stay di tempat, yang lain udah pada minggat. Selain kami berlima + Radith, kami juga ngajak 2 temennya Radith, Marko dan Aldo. Yang 4 lagi tuh teman sekelas kami. Yedika, Eldra, Narnia, dan Andara.

Setelah selesai membicarakan liburan, mata kami menjadi sangat berat. Posisi melingkar tadi sudah berubah menjadi posisi tidur yang sudah kami susun tadi. Nenda, Welma, Aku, Melvhi dan Syarah. Aku langsung mengunci pintu Doppi depan dan belakang saat mata sudah memerah. Dan segera saja setelah kami berbaring, jiwa pun melayang.

Hari yang direncanakan sudah ada di depan mata. Aku sudah meminta izin dengan Mami dan Papiku, makanya Papi sengaja gak berangkat ke Kantor untuk mengantar keberangkatanku.

“Tuh, Mobilnya sudah datang, Graze pergi dulu yah, Mi.. Pi.. Doain Graze baik-baik saja. Ok !!” Aku mencium tangan mereka satu persatu. “Iyah deh, sayaang… Pokoknya hati-hati saja.. jangan lupa sholat dan berdoa.” Mami berpesan. “Gak usah terlalu khawatir Om, Tante.. Tenang aja.. ada Radith kok yang jagain..” Radith keluar mobil mengangkat koperku masuk ke bagasi. “Iyah deh,dith.. Kalo sudah ada Radith Tante sama Om pasti tenang kok, yakan Pi ?” Mami tersenyum manis sambil mengusap bahu Radith.

“Iyah… Jagain Graze yah,dith… Yang bener jagainnya..!!” Papi menepuk-nepuk bahu Radith, Radith hanya cengengesan. “Ehemb, kalo udah ngobrol sama mertua.. lamaa yah ? Gak jadi berangkat nih kayaknya.” Welma menyindir. Radith langsung mengelak, “Ahh.. ada-ada saja Welma nih..” Matanya melotot ke arah Welma. “Hahahaaa… iyaah lah.. biar akrab antara mertua dan menantu.” Papi tertawa terbahak-bahak. “Yasudah, Graze beerangkat yah.. Dada.. Love you all.” Aku melambai dan memasuki mobil. Radith mengklakson sekali dan langsung tancap gas.. Kami berangkat.

“Yyeeii,, kok gak dari dulu sih kita liburan ke villanya Melvhi ? Kamu sih Mel, gak bilang dari dulu. Padahal kan seru tuh liburan ke villa !” Cerocos Welma tak henti-hentinya. Melvhi yang sedang disindir tidak mendengarkannya. Entah disengaja atau tidak aku tidak tahu.

“Tau tuh Melvhi, kan paling enak liburan di villa.. Ya gak Graze ??” Radith tiba-tiba mengiyakan perkataan Welma. “Jelas dong, udah lama aku pengen liburan ke villa.. Tapi, berhubung gak punya villa yah terpaksa deh.. Gak kesampean tuh keinginan..” Aku cemberut namun tersenyum.

“Yaudaah,, besok kita beli villa yah bebbh… biar bisa sering-sering liburan ke villaa.. setuju gak ??” Radith memandangku sambil tersenyum manis. Aku jadi malu sendiri. Mungkin dia bisa melihat pipiku memerah. Tapi, aku yah diam saja. Tidak mau menampakkan rasa maluku terhadap teman-temanku. Terkadang Radith memang suka seperti itu.

Hmmb, bernyanyi sambil bercanda membuat waktu terasa begitu cepat, sehingga tiba-tiba saja sudah sampai ke area villa Melvhi. Suasananya begitu gelap, seperrtinya akan turun hujan. Ditambah udara dingin area puncak, huuhhh,, rasanya tangan ini berubah menjadi beku. “Yapp, akhirnya sampai juga… Hmmbb, sudah tidak sabar… Pengen masuk..” Syarah yang paling bersemangat langsung berlari menuju teras villa. Kami pun menyusul setelah Radith memarkirkan hartopnya. “Oh iyah Mel, kamu sudah hubungin penjaganya kan ??” Tanya Nenda tiba-tiba. “Astaghfirullah, lupa !! Beneran lupaa Melvhi !! Jadi gimana ini ??” melvhi membuat suasana menjadi panik. Kami semua saling tatap-menatap. “Kok bisa lupa sih Mel ??” Marko yang baru keluar dari mobil tiba-tiba bertanya. “Yah tulah, Melvhi lupa.. mau gimana lagi ??” Melvhi merasa bersalah.

“Melvhi nih.. selalu lah kayak gini.. Pelupanya gak ilang-ilang !! Jadi gimana sekarang ??” Aku bertanya agak membentak. Tapi, segera aku redamkan kemarahan mengingat dia adalah sahabatku. “Yah, maaf dong.. Kan Melvhi gak sengaja lupa.. Tapi, tenang.. Melvhi tau rumahnya kok. Mau kesana ??” Tanya Melvhi sambil tersenyum lebar. Apa boleh buat ?? Kami pun mengikuti Melvhi berjalan ke arah jalan setapak.

Dasar Melvhi, ternyata rumah penjaga villa itu berjarak 100 km dari villa, alias di sebelah kandang kuda. Kuda Melvhi juga sih.. banyak Kudanya Melvhi ternyata. Pantesan dia tenang-tenang saja, rupanya penjaganya gak jauh rumahnya. Alhasil, tak lama kemudian, kami sudah duduk-duduk di beranda atas villa itu. Tapi, kami merasakan ada yang aneh sama penjaganya. Entah kenapa, dia gak ramah sama sekali sama kami, bahkan sama Melvhi yang tuannya sendiri. Dasar penjaga kurang ajar, kalu aku sih aku pecat aja tuh orang.

“Emmb, sayaang.. Kamu merasakan keanehan gak sama penjaga villanya ??” Tiba-tiba Radith membuka pembicaraan. Aku yang sedang asyik membaca komik pemberian Radith tiba-tiba tersentak. “Haa ?? emmb, iyah sih dith, aku juga ngerasa ada hal yang aneh sama penjaganya, kirain aku doang yang ngerasain.” Aku membenarkan perkataan Radith. Karena merasakan hal yang sama, kami Saling berpandang-pandangan, tidak mau berprasangka buruk dulu lah. Please, POSITIVE THINKING !!

Malam tiba-tiba saja datang, kami sedang mengadakan pesta barbeque di halaman depan villa. Hmmn, sangat-sangat mengasyikkan, makan makanan yang serba dibakar di suasana sedingin ini, serasa di Korea. Setelah mata terasa berat, tepatnya jam 23.00, akhirnya kami masuk ke kamar masing-masing. Berhubung di situ Cuma ada 3 kamar. Jadi kami tidur bersama-sama. Cowok sama cowok, cewek sama cewek. Tapi, ceweknya kami bagi dua, dan tentunya D’Donnees gak boleh dipisahkan. Kami tidur sempit-sempitan, sampai-sampai Nenda dan Syarah rela tidur dibawah karena gak tahan. Dan yang pasti, aku tetep di posisi tengah.

Tepat jam 12 malam, aku dikagetkan dengan suara jam yang berdentang begitu kuatnya. Aku terbangun karena terkejut, begitu pula dengan teman-temanku yang lain. Melvhi malah langsung refleks memelukku. “Aduuh, Mel.. Kok suara jamnya besar banget sih ??” Aku bertanya pada Melvhi disela nafas yang tersengal-sengal. “Melvhi juga gak tau.. Setahu melvhi sih, dulu gak ada jam yang punya suara sebesar itu. Makanya Melvhi kaget, sampai bisa meluk Graze.” Melvhi menjawab dengan tatapan serius.

Kami berlima saling bertatap-tatapan, serketika itu pula kami dikejutkan oleh suara pintu yang digedor. “Graze… Mel.. siapa aja lah, cepetan bukain pintunya doong !!” Seseorang berteriak dibalik pintu, dan itu adalah suara Andara. “Haa ?? Kenapa ra ?? kok tiba-tiba bangunin kami ??” Aku menjawab sambil turun dari tempat tidur dan menuju pintu, diikuti oleh ke-4 sahabatku. Setelah aku membuka pintu, aku melihat mereka yang sedang ngos-ngosan, Yedika, Eldra, Narnia, dan Andara. Wajah mereka pucat pasi, entah apa yang terjadi. Langsung saja mereka menerobos masuk dan menutup pintu.

“Huh-hah, huh hah.. “ Nafasnya begitu kencang hingga kedengaran oleh kami. “Ada apa sih ra ?? Kenapa Ka, dra, nia ?? Kok kalian ngos-ngosan gitu ??” Tanya Syarah sembari menuntun mereka ke tempat tidur. Nenda mengunci pintu, dan langsung menyodori mereka air putih. “Entah tuh Andara sama Yedika, aku sama Eldra juga gak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja mereka menjerit dan kami tersentak bangun. Lalu, mereka langsung menarik kami keluar kamar.” Narnia menjelaskan. “Ngapa ra ?? Apa yang terjadi ??” Aku kembali bertanya.

“Aduh, aku belum bisa jelasin.. Aku masih deg-degan. Mendingan sekarang salah satu dari kalian nelpon anak-anak cowok. Cepetaan !!” Andara memerintahkan kami melakukan sesuatu yang membuat kami bertambah khawatir. “Apaan sih kalian ini.. Bikin takut kami aja..” Sahut Melvhi sambil menelpon Marko, cowok dedemenannya. “Halo.. Siapa nih ??” Jawab Marko di kamar sebelah dengan suara agak berat. 3 kamar di villa itu memang bersebelahan, tapi rasanya ruangan-ruangannya kedap suara. Sehingga tidak tahu apa yang terjadi di kamar yang lainnya.

“Halo.. Marko ?? Ini Melvhi..” Teriak Melvhi agak berbisik. “Oh, Kamu Mel ?? Kirain siapa.. Soalnya gak baca namanya, hehe.. ada apa yah, Mel ??” Marko langsung menjawab. “Emmb, enggak tahu nih, Ko.. Kami juga masih bingung.. Yang jelas kalian kesini aja dulu lah.. Cepetan yah, sekarang juga.” Melvhi langsung menutup telponnya. Tak lama kemudian, anak-anak cowok datang, “Graze.. Nih kami..” Radith menggedor pintu. Aku langsung berdiri dan membukakan pintu, mempersilahkan mereka masuk dan mengunci pintunya kembali.

Setelah semua berkumpul. Kami duduk saling berdekatan. Bertumpuk di atas kasur. Radith segera duduk di sebelahku. Aku pun duduk bersandar sambil memeluk bantal. “Ada apa sih ??” Radith bertanya-tanya, tampaknya dia sangat penasaran. “Tanya saja sama Andara, kami juga masih bingung.” Aku menjawab dengan singkat. Radith memandang Andara sambil mengerutkan dahi, Andara pun menarik nafas panjang demi menenangkan dirinya, Dia pun memulai ceritanya.

“Awalnya, aku juga gak terlalu yakin sama apa yang sudah aku lihat, aku kira aku sedang bermimpi. Tapi, setelah aku mendengar Yedika menjerit, aku pun menjerit. Dan aku yakin kalau yang aku lihat itu bukan mimpi.” Andara menelan ludah. “Emang kamu lihat apa ?? Tanya Aldo. “Aku gak sanggup jelasinnya. Aku takut! Tanya saja sama Yedika.” Andara memeluk Eldra. “Apa Ka ?” Tanya Aldo sekali lagi. “Aku lihaatt……. Aku lihat sesosok makhluk di jendela kamar kami. Aku takut !” Yedika menangis dan menutup wajahnya. Haa ?? Kami pun terkejut bersamaan, sesosok makhluk ?? Yang bener saja, makhluk apa ?? Aku jadi deg-degan. Tak sengaja aku menggenggam tangan Radith, radith pun menggenggamnya penuh kehangatan.

“Ahh.. Yang bener saja lah.. Melvhi takut nih.. Gimana kita mau pulang coba nih ??” Melvhi merengek menarik tangan Syarah. Namun, “Uupss.. apa itu ?” Nenda terkejut mendengar suara pintu dibanting. Pintu kamar Andara sepertinya. Kami saling berpandang-pandangan. Refleks kami semakin saling mendekat, tak perduli itu cowok atau cewek, yang penting rasa takut ini bisa berkurang, walaupun sedikit. Radith yang tahu bahwa aku mulai ketakutan, langsung saja memelukku dan menghangatkan diriku yang mulai membeku dilanda rasa takut. “Kamu gak papa kan sayang ?? kamu kedinginan ??” Radith bertanya kepadaku.

Suasana semakin mencekam, aku dan teman-temanku semakin ketakutan. Apa yang bisa dan harus dilakukan untuk hilangkan semua rasa takut ini ?? Semua seakan kehilangan jiwanya, entah kemana perginya. “Mana semua keberanian kalian ? Apa yang sedang kalian lakukan ?” Aldo tiba-tiba saja berdiri dan berteriak. Kami tersentak kaget. Serentak kami memandangnya, Aldo pun segera menarik tangan Radith dan Marko. “Ayoo.. Kita disini ghak salah.. kita ghak ganggu !! Kita di sini orang beragama, ngapain coba kita takut ??” Kata-kata Aldo langsung saja membuat darah kami seperti mengalir kembali, dengan percaya diri kami pun berdiri dan saling bergandengan tangan.

“Aminn…” Ucapku setelah Radith selesai membaca doa, berharap apa yang akan kami lakukan mendapat rahmat dari Allah. Perlahan-lahan kami membuka pintu dan, WwuUusshHhh…. angin kencang yang dingin menerpa wajah kami semua. Suasana yang sangat-sangat tidak bersahabat. Dingin, gelap mencekam, dan diwarnai suara-suara yang sangat-sangat aneh. Tak sengaja kami melihat Pak Penjaga Villa, saat dia memandang kami, dia langsung berlari mencoba menghindari kami. Radith dan Marko segera mengejarnya, sedangkan Aldo dan kami para cewek, mencoba mencari jalan keluar yang seakan-akan menghilang di telan bumi.

“Alhamdulillaah….. Ya, Allahh…. Akhirnya kita bisa keluar dari tempat ini !! Sial,, entah apa-apa yang terjadi !! Aku benci,,” Yedika mengumpat segalanya.

“Sabar dong dika.. Kita semua kan gak pengen ini terjadi, apalagi sampai merusak acara liburan bareng kita.. Tapi yah mau gimana lagi.. toh, ini terjadi dengan sendirinya, untung kita selamat.” Ucapku menasihati Yedika sambil mengistirahatkan lututku yang melemas. Kami semua terdiam menunggu kabar dari Radith dan Marko, dengan perasaan harap-harap cemas. Apa yang terjadi dengan mereka ? Kenapa harus selama ini ? Aldo yang tidak sabar, mencoba menyusulnya, namun Melvhi tidak memperbolehkannya. Ya, jika Aldo ikut pergi, dengan siapa kami para cewek ?

Tak lama kemudian, Radith dan Marko muncul dengan membawa pak penjaga. Kami langsung berlari menyambutnya. “Syukurlah, kalian gak papa kan ? Kenapa lama sekali ?” Aku yang sangat khawatir dengan keadaan mereka, malah menyerang mereka dengan beribu pertanyaan.

“Tenang.. Kami gak papa kok.. Untung saja penjaga ini berhasil kami tangkap ! Dia mencoba kabur.. Sekarang jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi !” Radith mulai mengintrogasi.

“Ampun… Maafkan saya Non Melvhi…” Ucap penjaga itu sambil gemetaran. “Saya tidak bermaksud Non.. Saya hanya tidak mau Non datang kesini lagi.. Saya telah melakukan kesalahan. Maafkan saya Non..” Jelas penjaga itu.

“Maksudnya ? Melvhi gak ngerti..” Melvhi langsung menggeleng kuat. “Ngomong yang jelas !! Ayo lanjutkan..” Marko menyentak Pak penjaga itu.

“Saya tidak bermaksud Non.. Untuk mengusir Non dari villa ini.. Hanya saja, Saya takut Non akan melaporkan saya ke polisi atau ke Orang tua Non.. Saya takut Non..” Jelasnya lagi.

“Kami masih belum mengerti, Pak. Ceritakan saja semuanya.. Tidak usah takut..” Aku mencoba menenangkannya.

“Begini ceritanya, Non tau kan saya punya anak laki-laki ? A,Anak saya itu sudah berkeluarga.. Dia dan istrinya saya ijinkan untuk tinggal di villa ini tanpa sepengetahuan Pak Andre, Ayah Non Melvhi. Itu kesalahan pertama saya..”

“Lalu, 1 tahun kemudian, menantu saya akan melahirkan.. Malam itu, anak saya pulang dalam keadaan sakaw.. Ternyata dia memakai Narkoba.. Saya yang mencoba menenangkannya ternyata malah membuat dia semakin brutal. Itu kesalahan kedua saya..” Dia menghela nafas panjang.

“Dan.. Dan.. Dan tanpa sengaja dia mendorong istrinya dari balkon atas, dan terjatuh tepat di dalam kolam itu.. Dan langsung meninggal dunia.. Saya, Sa..Saya tidak bisa mengelakkan kejadian itu.. Saya sangat terpukul, Anak saya juga meninggal karena sakaw di malam itu. Saya.. Orang tua yang bodoh ! Itu kesalahan saya yang paling besar..” Pak penjaga itu pun menangis meraung-raung.

Kami merasa semakin gelisah setelah mendengar cerita bapak itu, perasaan kami tidak karuan. Suasananya pun semakin mencekam. Melvhi merasa tidak percaya, villa-nya ternyata menyimpan rahasia yang menakutkan.

“Maafkan saya, Non… Saya memang sangat bodoh !!” Pak penjaga itu bersujud di hadapan Melvhi. “Kenapa bapak tidak mengatakan hal ini kepada Papa melvhi ? Kenapa bapak merahasiakan hal ini ? Itu yang Melvhi gak suka..” Melvhi merasa kecewa. “Iya,pak.. Melvhi benar, kenapa bapak hanya memendam semua ini sendirian ?” Aku mengiyakan perkataan Melvhi.

“Saya takut Non.. Saya takut, Saya adalah seorang pembunuh !! Saya takut dilaporkan ke polisi.. Penyebab kematian mereka adalah aku !! Aku hanya bisa diam saat melihat kejadian itu.. huu.huu.huuu,,” Tangis bapak itu.

“Lalu, bagaimana solusinya ?” Celetuk Welma. “Kenapa bapak tidak menginginkan kami ada disini ?” Welma  penasaran. “Mereka.. mereka berdua.. akan menghantui kalian, selama kalian berada disini. Saya tidak mau kalian kenapa-kenapa.” “What ??????????????? Mereka gentayangan di villa aku ??????????????” Melvhi terkejut setengah mati. “Iya, Non..”

Oh, No !!!!!!!!!! Itu yang terlintas di pikiran kami semua. Yang benar saja, villa sebesar dan semegah ini di huni hantu ???????? Kami sangat-sangat tidak percaya, kami terbengong-bengong dan sedikit merinding ketakutan, bagaimana kalau tiba-tiba dia muncul dan… waaa !!!!!!!!!!!!!!!! Kami tidak bisa membayangkannya. Saat kami dipenuhi dengan khayalan kami masing-masing, tiba-tiba..

“Dek.. Jangan percaya sama bapak saya,yah..” Seseorang muncul dari sisi kanan villa. Seorang laki-laki bertubuh tinggi mengagetkan kami, “Dia itu terkena gangguan jiwa. Semua yang diceritakan dia itu bohong belaka.. Saya anak yang dicerotakan oleh dia tadi..” kami berubah ekspresi. “Stopp !! Jangan takut.. Saya belum mati.. Saya masih hidup, itu istri saya dan anak saya..” Seorang wanita yang sedang menggendong bayi muncul dan menyapa kami, “Hai…”

Setelah bercerita panjang lebar di ruang utama villa, Tante itu pun menyiapkan minuman hangat untuk kami semua. Sedangkan bapak penjaga itu, diistirahatkan di rumahnya bersama istrinya. Anak bapak itu berkata, bahwa bapaknya terlalu stres memikirkan adik perempuannya yang kabur meninggalkan rumah bersama suaminya. Dia jadi sedikit frustasi, Mereka sudah berusaha mengobatinya. Tetapi, hasilnya sama saja malah bertambah parah. Dia selalu saja mengarang cerita-cerita yang tidak masuk akal dan selalu saja menakut-nakuti orang. Apa yang kami lihat tadi malam itu, itu adalah tipu dayanya. Mereka tahu saat dia mengambil mukena istrinya dan mengikatnya di batang galah. Sungguh bapak yang malang.

Hmm, Ternyata semua itu hanyalah sensasi belaka. Padahal, jantung kami sudah serasa mau copot. Tetapi, Alhamdulillah kalau begitu jadi liburan kami kali ini gak rusak dong, malah suatu pengalaman baru. Melvhi merekomendasikan Bang Wawan, Anak pak penjaga sebagai penjaga villa yang baru. Kami semua menyetujuinya. Malam itu, kami tidak bisa tidur. Kami berbincang-bincang dan bercanda sampai adzan shubuh berkumandang. Bang Wawan dan istrinya juga merasa senang dengan kedatangan kami. Mereka menemani kami ngobrol semalaman suntuk. Sesekali Melvhi melucu dengan merayu-rayu Marko, cowok idamannya. Membuat kami tertawa terbahak-bahak. Aku dan Radith pun tersenyum bahagia, bisa melewati malam bersama dan penuh kehangatan.

Setelah menunaikan sholat shubuh, kami maraton bersama berkeliling desa. Suasana yang indah, udara dingin tidak menghilangkan semangat kami menunggu matahari terbit di tengah perkebunan teh. Bang Wawan pun menyertai kemanapun kami pergi. Kami merasa sangat-sangat bahagia. Tidak lupa, kami berphoto-photo ria memanfaatkan keadaan. Kapan lagi bisa kayak gini ? Keep Smile… Happy Holiday Time, J

CERPEN INI DIDEDIKASIKAN UNTUK SAHABAT-SAHABATKU,

MELLA.. SITI.. OCY.. WINDY.. DAN AKU.. AMANDA..

INI HANYA FIKTIF BELAKA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!   J AMBIL POSITIFNYA AJA,,

BY : AMANDA AYUNINGTIYAS

MENGENAL DAN MENGELOLA HATI

Hati manusia terbagi menjadi dua pengertian, yaitu :

  1. Pengertian Fisik ( Jantung )

Hati yang dimaksud dalam pengertian fisik. Manusia juga memiliki organ tubuh yang dinamakan “jantung” berbentuk censerung kerucut tumpul. Jantung pada tubuh manusia menempati diantar kedua paru-paru tepatnya pada bagian tengah rongga toraks. Sebuah jantung memiliki 4 buah ruang berongga. Ukuran jantung sendiri kurang lebih sebesar kepalan tangan pemiliknya. Jantung manusia terletak di sebelah kiri bagian dada, diantara paru-paru, terlindungi oleh tulang rusuk. Sedangkan bagian aspek jantung di intercostal ke-5 atau tepatnya dibawah putting susu sebelah kiri ( dalam hal ini disebut sebagai posisi hati manusia dalam bentuk spiritual yaitu dada sebelah kiri berjarak dua jari yang disatukan yaitu telunjuk dan jari tengah). Sesuai dengan etimologis, jantung pada dunia medis memiliki istilah cardio/kardio. Ialah berasal dari bahasa Latin, cor.  Dimana cor dalam bahasa latin memiliki arti: sebuah rongga ( kemudian dimana rongga-rongga jantung tersebut didalamnya terdapat darah-darah hitam dan letah “RUH” manusia berada). Jantung memompa darah lewat pembuluh darah dalam kontraksi berirama yang berulang dan berkonsistensi.

Sumber : http://jantung.klikdokter.com

  1. Pengertian Halus Wilayah Spiritual

Hati mengandung makna halus dan ada dalam setiap manusia. Mengendalikan wilayah emosional yang mewujudkan perasaan manusia, serta membentuk sikap dan perilaku manusia, yaitu :

“Didalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik maka akan baiklah seluruh tubuh manusia tersebut (perilaku), dan apabila segumpal darah itu rusak maka akan rusaklah seluruh tubuhnya. Dia itu adalah “HATI”.

Maksudnya :

Ketika kita bekerja untuk mendapatkan rezeki dengan cara “positif” maka kita akan mendapatkan “uang positif (halal)”, kemudian uang tersebut dibelikan makanan dan melalui proses metabolisme kemudian terurai menjadi segumpal darah. Kemudian gumpalan darah tersebut dipompa oleh jantung keseluruh  tubuh, mengaliri setiap pembuluh-pembuluh darah.

Ternyata pengertian hati yang kita kenal selama ini bukanlah hati (hepar), melainkan “jantung”. Perbedaan bahasa terkadang membuat perbedaan persepsi setiap orang akan menjadi berbeda, dan kembali pada sudut pandang orang tersebut.

Dalam bahasa Inggris pun terjadi persamaan bahasa yaitu, “heart” dalam pengertian jantung dan “heart” dalam pengertian hati.

Hati sering disebut sebagai “hati sanubari” yang berasal dari bahasa Arab, yaitu “shanaubar”. Berawal dari masyarakat Arab beberapa abad silam mengidentifikasikan jantung mirip dengan buah “shanaubar” yang dalam bahasa Inggrisnya “pine” dan dalam bahasa Indonesia “cemera” karena organ jantung manusia berbentuk seperti “buah cemara”. Pada akhirnya, hati sering disebut sebagai “hati sanubari”, perlambang perwujudan dari hati manusia dan bukan mencerminkan hati terdalam.

HATI ADALAH “RAJA KEHIDUPAN”

Hati merupakan harta yang paling berharga dalam hidup ini. Dengan hati, kita akan mencintai dan menyayangi keluarga, sahabat, relasi, alam, dan banyak lagi yang lainnya. Dengan hati, kita akan dapat bekerja lebih baik lagi. Banyak sekali kehancuran didunia saat ini yang diakibatkan oleh kehancuran hati manusia itu sendiri.

Hati merupakan “Raja” atas manusia itu sendiri, sedangkan fal-fal tubuh lain seperti tangan, kaki, mulut, otak hanya menuruti perintah dari kata HATI.

Saat manusia tiada, fal-fal tubuh tidak akan bisa menyelamatkan diri dari siksaan “API NERAKA” , kecuali manusia yang mampu dengan bijaksana mengelola HATI dengan lebih baik yang akan terbebas dari siksaan api neraka nantinya. Manusia yang merugi selalu memikirkan kesenangan duniawi daripada berlomba menyiapkan tempat tinggal abadi dihari akhir nanti, serta tidak berusaha meminimalisir sikap dan perilaku negatifnya.

Hari yang gelap tidak dapat lagi mengenali mana yang benar dan mana yang salah. Baginya adalah mencari kesenangan, ketenangan, dan kenyamanan intuk dirinya sendiri. Jikalaupun bisa, selama hidupnya dia tidak mau mengalami kegelisahan, kesusahan dan kemiskinan. Manusia seperti ini telah melupakan inti dari diciptakannya dimuka bumi ini.

Seringkah kita mendengar kalimat berikut :

“Nikmatilah hidup yang singkat ini dengan mencarikesenangan dan kebahagiaan.”

Padahal, kesenangan dan kebahagiaan tidak akan bisa ditempuh selama manusia itu masih hidup. Kesenangan dan kebahagiaan yang diraih hanya bersifat semu karena perbuatan tersebut dilatarbelakangi untuk menentramkan HATI. Kebahagiaan, kesenangan, dan ketentraman hakiki akan diraih ketika kembali kepada Yang Mahakuasa.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat dirimu dan rupamu. Namun, Ia menilai dirimu melalui hatimu.”

LEBIH KE PERSAHABATAN

Pagi yang cerah menyambut hari ku yang baru, membuat ku semangat untuk berangkat ke sekolah secepatnya. Bukan karena belum menyelesaikan tugas, melainkan untuk segera menuntut ilmu. Ada pepatah mengatakan, “Tuntutlah ilmu setinggi langit”. Itulah yang selalu membuat aku semangat berangkat ke sekolah.

“Ibu.. Sindy pergi ke sekolah dulu ya. “ aku menuju ke dapur menemui ibu untuk mencium punggung tangannya yang penuh dengan kasih sayang.

“Iya… hati-hati yaa nak, belajar yang rajin..” ibu mengelus rambutku dengan belaian lembutnya.

Setibanya aku di sekolah, ternyata sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa siswa saja yng sudah datang, selain itu entah pada kemana, padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.15 yang menandakan bahwa 15 menit lagi bel berbunyi.

“Kriiiiiiinnnnggggg……….” bel tanda masuk berdering, para siswa berhamburan memasuki pintu gerbang yang sudah di tungguin sama pak satpam yang super galak. Dasar anak pemalas, bel udah berdering saja baru pada datang, kalau di tanya jawabnya, “Kita tuh harus datang on time, jadi tepat saat bel berbunyi.. yah.. kita masuk. Itu namanya murid teladan.”

Denger-denger dari kabar angin yang berhembus, di kelas kami akan kedatangan anak baru, anak-anak 1 kelas heboh ngomongin dia. “Eh, katanya anak barunya itu keren loh. Tadi ada yang nampak di kantor Kepsek. Ckckck.” Apa pentingnya sih ngomongin orang, yang katanya keren lah, ganteng lah, hmmm.

Pelajaran pertama sebentar lagi di mulai, tapi Pak Anton guru mata pelajaran Biologi Faforit kami itu tak kunjung muncul juga. Padahal kami sedang semangat untuk membicarakan acara camping kami ke TNBT, alias Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Sudah beberapa bulan ini kami merencanakannya, dan ini di adakan untuk menjalin kebersamaan kami yang memang sudah sangat erat.

ELSTWO, itulah kami Eleven Sains Two atau sebelas ipa dua. Saat kami sedang heboh membicarakan masalah itu, tiba-tiba saja Daddy Anton masuk membawa seseorang yang tidak kami kenal.

“Assalamualaikum.. Hmm.. Bisiing nya kalian !!” Dia mengkritik kami sambil senyum-senyum dan segera meletakkan tas hitamnya.

“Kok lama sih pak ??” kata Gustri sang ketua kelas. “suka-suka saya lah.. kenapa kamu yang ribut ?” Dia tertawa, “Hahahaha, Oh iya.. Ini bapak membawa teman baru buat kalian. Namanya… Siapa ? Haa ??” Tanyanya linglung.. “Biar saya memperkenalkan diri saya sendiri pak,” Dia tersenyum kepada bapak. “Oh ya sudahlah, silahkan..” Daddy mempersilahkan.

“Assalamualaikum.. Hai teman-teman semua…Perkenalkan, nama saya Arjuna.. Saya berasal dari Jakarta. Saya berharap kalian semua mau menerima saya dengan tangan terbuka, soalnya melihat keakraban kalian.. mungkin sulit bagi kalian menerima anggota baru. Tapi apabila saya diizinkan bergabung dalam kebersamaan kalian, saya akan sangat senang dan bangga.” Dia memperkenalkan dirinya dengan sangat menarik, membuat kami merasa nyaman untuk bersama-sama menjalin persahabatan dengannya.

“Tenang saja, kami itu gak pernah pilih-pilih orang kok, selama di antara kita terjalin persahabatan yang baik, kita semua akan selalu bersama. OK…” Gustri menyatakan diterimanya Arjuna di kelas kami..

∞∞∞∞∞

Hari ini adalah hari Jum’at, itu tandanya hari keberangkatan kami ke TNBT sebentar lagi. Namun, kepastian mengenai rencana itu masih membingungkan. Surat izin dari Sekolah tak kunjung keluar, padahal kami sudah mengurusnya sejak beberapa hari yang lalu.Di rasa-rasa Sekolah mempersulit keberangkatan kami, sehingga kami belum mempersiapkan apa-apa. Ditambah lagi, Daddy kesayangan kami tidak bisa mengikuti kegiatan ini di karenakan ada tugas Dinas. Terpaksa kami harus mencari guru pembimbing yang baru.

Pilihan kami jatuh kepada guru kami yang paling baik, Guru Olahraga yang bernama Pak Dicky, di tambah dengan guru favorit Djenii, Pak Robby. Untung saja bapak-bapak Guru tadi langsung menyetujui rencana kami. Betapa leganya hati kami. Dan betapa bahagianya hati Djenii.

Keesokkan harinya, kami ditugaskan untuk gotong Royong mempersiapkan UN kakak-kakak kelas kami pada hari seninnya, dan kami mengambil kesempatan untuk berlibur di hari itu. Tapi, Sekolah belum memutuskannya kecuali kami memenuhi persyaratan yaitu paling sedikit 25 orang yang ikut.

Hati kami berdebar-debar saat menyerahkan surat-surat izin dari orang tua sebagai tanda bukti untuk sekolah. Jam menunjukkan pukul 11.15, sebentar lagi bel pulang akan berbunyi. Kami semua anak-anak ELSTWO menunggu dikeluarkannya surat izin dari sekolah.

Tepat pada saat bel berbunyi, akhirnya dengan mengucapkan ALHAMDULILLAH, kami di izinkan untuk mengunjungi Taman Nasional itu. Langsung saja Gustri dan Arjuna yang kami angkat menjadi wakil ketua kelas mengaba-abakan kepada kami untuk segera pulang mempersiapkan keperluan masing-masing dan keperluan kelas. Lalu, tepat jam 13.00 kami harus berkumpul di sekolah.

∞∞∞∞∞

Setelah meminta doa kepada seluruh keluarga, aku pergi ke sekolah di antar Ayahku tercinta. Semua keperluan sudah ku letakkan di dalam Ranselku dan 1 tas jinjing ku untuk barang-barang ringan dan segala macam cemilan.

Sesampainya di sekolah, semua teman-temanku sudah berkumpul. Aku melihat sekeliling, ternyata sahabatku Ocha sudah berkumpul bersama teman-teman yang lain. Namun, satu tatapan menghentikanku memandang sekeliling. Arjuna menatapku.

Begitu turun dari motor dan mencium tangan sang Ayah, aku segera berlari menemui sahabat-sahabatku yang heboh bercerita dan berbahagia. Aku langsung ikut nimbrung bersama Retno,Ocha dan Mela. Kebahagiaan yang tiada tandingannya.

Sudah beberapa lama kami menunggu, dan jam sudah melewati batas keberangkatan. Kami mulai gelisah. Mobil truk dengan bak belakang yang di sebut PRAH kendaraan faforit kami belum kunjung datang. Salah satu guru pembimbing pun membatalkan rencana karena ada kepentingan lain. Siapa dia ? pak Robby, dedemenan Djenii tidak jadi mengikuti petualangan kami. Namun, hal itu tidak mengurangi kebahagiaannya bisa bersama kami. Dalam hal ini, Pak Dicky tidak dikabari, ditakutkan dia juga akan turut mengundurkan diri.

Tepat puku 14.30, akhirnya mobil jemputan kami datang bersama salah satu teman kami yaitu Puspa. Itu karena supirnya adalah Pamannya. “Yyyeeiikkkhhh…. akhirnya kita berangkat juga !!” sorak kami bergembira. Segera saja mobil mengambil posisi agar kami bisa naik dengan cepat. Sebelum berangkat kami sempat berphoto ria dengan salah satu teman kami yang tidak bisa mengikuti keseruan ini.

Satu per satu, kami mulai menaiki Prah, saat aku akan menaiki Prah itu, tiba-tiba ada yang menarik tanganku .Arjuna, lagi-lagi dia. Dia membantuku untuk naik. Aku berdiri sambil terbengong-bengong. “Makasih, yaahh…”. Dia hanya tersenyum kecil.

                                         ∞∞∞∞∞             

Wuusshhh…. angin segera berhembus menerpa wajah saat mobil mulai bergerak. Keceriaan terpancar jelas di wajah kami semua. Petualangan baru akan segera kami ukir kembali. Mereka bernyanyi dengan riang, membayangkan kesenangan yang akan kami rasakan nantinya.

Sesampainya kami di Pematang Rebah, tepatnya di Simpang Patin, mobil kami berhenti. Kami akan menjemput Pak Dicky. Berhubung mobil melaju sangat cepat, INSYA ALLAH kami sampai tepat pada waktunya. Lawakkan-lawakkan lucu segera saja keluar saat mobil kembali berjalan. Ditambah dengan satu teman lama, Ribut namanya. Dia yang sudah sangat mengenal tempat ini karena dia merupakan anggota inti KPA SMAN 1 Pasir Penyu.

Perjalanan yang sangat melelahkan, beberapa dari kami banyak yang tidak kuat alias mabuk. Ada yang muntah-muntah, ada yang pusing-pusing, dan ada juga yang bercanda. Salah satunya aku, dikarenakan sebelum pergi yang sangat terburu-buru, aku sampai lupa makan. Akibatnya, aku agak pusing. Ditambah pula salah seorang teman di sampingku tiba-tiba saja mengeluarkan isi perutnya alias muntah. Aku tidak sanggup untuk melihatnya, apalagi tangankku juga turut menjadi korban. Ku pejamkan mata dan menyembunyikan kepalaku di balik badan Patra yang sedang tertidur. Uhhhh, bagaimana ini ??

Tak disangka-sangka aku mendengar suara seseorang yang sangat ku kenal. Arjuna, dia menanyakan keadaanku, “Ngapa Sindy ? Hahaha.” Ia tertawa terbahak-bahak, aku rasa dia mengetahui kondisiku saat ini. “Ini haa.. Grah, tanganku kena.” Aku mengacungkan tangan kiriku. “Eh, kena yah Sindy ? woii,, tolong carikan lap lah, tangan Sindy kena tuh, kasian dia !!” Teriaknya spontan, namun tidak ada yang mendengarkannya. Suasana tiba-tiba hening, Aku hampir saja menangis.

“Lho belum juga Sindy ? Woii,, mana ?? Carikanlah Sindy tuh kain lap, tangannya kena tuh. Haa.. itu lap tuh bawa sini cepat.” Dia terus membantuku. “Ni Sin, Lapnya” Dia menyodorkan lap yang ada di tangannya. “Gak bisa… ini lapkanlah, Sindy gak sanggup liatnya dow…” Di karenakan Arjuna tidak nisa menjangkauku, dia memerintahkan Tiara untuk membantu membersihkan tanganku. Akhirnya, aku sudah bisa menghirup udara bebas.

“Bruummb..bruummb..bruummb..” Suara mobil yang kami kendarai saat melintasi jalanan yang terbilang sangat rusak. Mobil bergoyang dengan kuatnya sehingga membuat seisi mobil berteriak heboh. Terkadang hal-hal seperti itu dapat membuat kenangan terindah tersendiri. Tak seberapa lama teriakan itu, langsung meledak tawa seluruh penghuni Prah.

Jam menunjukan pukul 17.00, kami mulai memasuki area Taman Nasional Bukit Tiga puluh. Jalannya yang mendaki dan menurun membuat mobil kami sulit melewatinya apalagi ditambah pula dengan tanah yang basah akibat guyuran air hujan tadi siang yang tak seberapa lama. Perjalanan sejauh 12 Km masuk ke dalam ini membuat kami semakin lelah, harapan kami adalah segera sampai  di MES. Wajah-wajah kami sudah sangat-sangat kumal.

Tepat di pendakian yang cukup curam, mobil kami tidak kuat untuk mendakinya. Terpaksa Pak Dicky yang sudah duduk nyaman di sebelah supir selama di perjalanan akhirnya turun juga untuk membantu mendorong mobil. Arjuna pun segera ikut serta membantu Pak Dicky. Apa yang bisa dilakukan dua tengkorak hidup itu di kala mobil tidak kuat mendaki ?? Akhirnya seluruh anak cowok turun dan membantu mendorong mobil.

Alhamdulillah mobil akhirnya jalan juga. Para anak cowok itu segera naik dan perjalanan di lanjutkan. Suasana sore yang cukup gelap di tengah hutan, terkadang menimbulkan rasa takut. Aroma hutan yang sangat khas ditemani suara makhluk hutan yang sangat ramai. Mata kami memandang berkeliling. Itulah pertama kalinya kami memasuki hutan yang sesungguhnya. Sangat mengaggumkan !!!!!!

Tepat jam 17.30, akhirnya kami sampai di MES kehutanan. Betapa bahagianya hati kami semua. Mobil berhenti tepat di depan MES, begitu pintu belakang dibuka, “Wwaahh,, Leganyaa !” seru semuanya. Kami baru bisa tersenyum lebar saat itu. Aku pun mulai berjalan menuju pintu, saat ku dengar sesuatu yang aneh. Teman-teman yang sudah turun duluan tertawa terkekeh-kekeh.

“Ngapa lah anak-anak itu ?” Pikirku dalam hati. Tetapi, saat aku menuruni mobil, “Hahahaha,, Ocha.. coba lihat ! Baju Pak Dicky dengan penjaga MES nya kembar !” Kami berdua tertawa bersama. Sembari terus tertawa, kami pun segera mencari posisi yang nyaman untuk beristirahat sejenak sambil melihat SUNSET alias Matahari Terbenam. Sedikit-sedikit sudah bisa bercanda bersama.

Saat hari bertambah sore, Penjaga MES yang bernama Om BASUKI, memerintahkan kami untuk segera memasuki MES. Kami langsung beranjak memasuki MES yang terbuat dari kayu tersebut. Suasana di dalam mes yang baru saja kami masuki sangat menyeramkan. Di karenakan suasananya yang masih sangat gelap belum ada penerangan sedikitpun.

Menurut Om Basuki, kamar yang akan kami tempati ada di lantai dua gedung ini. Kami segera saja menaiki tangga, refleks aku berkata, “ Waww,, Red karpet.. Ternyata kita bisa melewati red karpet, ckckck !” Candaku yang membuat semua tertawa termasuk Om Basuki.

Tante ELY yang merupakan istri Om Basuki, menunjukkan kamar yang bisa kami tempati, yaitu kamar nomor 4. Setelah meletakkan barang-barang bawaan, kami segera menuju teras atas yang lebih keren disebut Balkon. Melihat pemandangan sekitar Mes yang sangat menawan, yaitu Hutan. Burung-burung beterbangan. Sungguh-sungguh bangga menjadi kelas pertama SMAN 1 Pasir Penyu yang bisa menginjak tempat seindah ini.

Kebiasaan anak-anak eLstwo adalah berpose ria di moment apapun, apalagi di tempat seperti ini, segera saja tangan kami menggenggam kamera digital yang memang sudah dopersiapkan. Saat hari semakin gelap dan memasuki Maghrib, kamu langsung masuk ke dalam untuk membersihkan diri sekedarnya. Maklum, semuanya sangat terbatas. Setelah kami rasa bersih dan badan agak segar, kami memasuki kamar. Ada beberapa teman kami yang masih terbawa oleh siksaan di atas mobil tadi.

“Kriiukk.Kriiukk.Kriiukk” Suara perut kami yang sudah keroncongan, bahkan sampe ke aliran Underground alias Rock. Segera saja kami buka bekal yang sudah sangat menggoda sejak tadi. Di tambah pula aku memang belum makan siang tadi. Makan bersama di kamar Mes sangat lezat, apalagi Mela membawa sambal lado kripik kentang + Kacang + ikan teri, makanan favorit kami. Kami langsung menyerbu serentak tanpa di komando.

Tapi sialnya, “Lagi pada makan yah ? Kalo bisa makan itu di bawah, sama-sama temannya. Jangan di kamar, nanti kamarnya kotor” Komentar Ante Ely. Huuhh,, males banget sih ! Langsung saja kami habiskan secepat mungkin dan membereskan tempat kami makan tadi. Tidak sabar melihat suasana hutan di malam hari, kami berlari keluar ruangan. “Huummbb, bagus yaah ?” Ucapku.

Melihat ke bawah, fenomena nyata yang sangat menggelitik. Pak dicky yang seorang guru kami ikut-ikut kami main domino. Ckckck, sangat-sangat lucu. Kami pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Pak Dicky. Sampai-sampai ante Ely berkata, “Nanti kalau Kepala Sekolah kalian bertanya, apa saja yang kalian lakukan di sana ? Apa yang kalian dapat ? Berjudi semuanya !” Ucapnya secara tegas dan lantang, membuat kami tertawa serempak.

Tak seberapa lama kami berjudi, kami mendengarkan cerita dari seorang penjaga Mes yang cukup menjadi perhatian cewek-cewek, karena tampangnya lumayan enak dipandang. Bang Sohib namanya, yang kami ejek Bang Sahabat. Hahahaha, Sohib kan sama dengan Sahabat, iya atau tidak ? iiyaaa…! Dia bercerita asal usul nama Bukit tiga Puluh itu dari mana, juga kejadian-kejadian apa saja yang pernah terjadi di area hutan itu. Kami cukup antusias mendengarkan cerita Bang Sohib, kecuali Mela yang asyik pindah kesana kesini, lompat kesana kesini mencari sinyal untuk membalas SMS dari BEBO-nya tersayang.

“Huummbb, dingin yah ?” Ucapku pada Ocha. Mata kami pun sudah hampir menyatu. Warnanya pun sudah berubah merah. Kami pun masuk ke kamar yang menurut cerita Ante Ely bekas dipakai sama pengunjung asal Prancis dan Belanda. Di dalam kamar kami bercerita dan bercanda. Mata yang sudah mengantuk tidak juga bisa dipejamkan dikarenakan ingin selalu bisa tertawa bersama. Tak seberapa lama di kamar, akhirnya kami keluar lagi dan duduk di depan TV sambil makan Klanting dan Lays.

Kira-kira jam 23.15 kami mencoba untuk tidur, aku pun sudah mulai memejamkan mata. Dalam tidurku, aku merasa kurang nyaman. Dan yang membuatku kurang nyaman itu adalah, suara Djenii, Swesvi, Puspa, dan Tyara. Mereka yang belum tidur, menmbuat trik-trik jahil untuk mengganggu kami yang sudah tertidur. Aku yang sudah terlanjur bangun akhirnya ikut-ikutan menjahili yang lainnya. Yang terlucu adalah berpose ria dengan korban yang sudah di jahili. Contohnya, Adella yang kakinya diikat oleh swesvi dengan selimut atau korban-korban lainnya yang wajahnya dicoret-coret dengan masker, salah satunya Ocha.

Sangkingkan lucunya, kami tertawa walaupun ditahan. Tetapi, tiba-tiba saja Andita merasa terganggu, dia langsung keluar kamar sambil menangis. Kami langsung diam dan merasa takut. Beberapa teman menenangkannya. Hal ini membuat Ante Ely keluar dari kamarnya, kami sang sumber keributan langsung merebahkan diri dan memejamkan mata berpura-pura sedang tidur. Dasar anak bandel !

Setelah kejadian ini, kami semua langsung tertidur pulas sampai keesokkan paginya. Aku terkaget dan langsung bangun ketika teman-teman riuh keluar masuk hendak melaksanakan sholat shubuh. Di tambah dengan suara-suara aneh yang menggema, aku berpikir bahwa itu adalah suara seseorang yang sedang berteriak-teriak. Tapi, ternyata itu adalah suara Monyet penghuni hutan ini. Sungguh ramai suaranya, benar-benar suara alam. Aku segera bangun saat hari mulai terang, mencuci muka dan segera ke Balkon untuk menghirup udara bebas yang masih sangat segar.

Setelah melaksanakan senam pagi yang entah apa-apa, tiap-tiap anak eLstwo sibuk dengan kesibukan masing-masing. Ada yang menyusun barang-barangnya, ada yang mengantri di depan kamar mandi, ada yang keluar sambil membawa secangkir minuman hangat, dan ada juga yang sibuk memasak membuat sarapan. Sedangkan sang pemilik kediaman belum bangun dari tidurnya, maklum ibu hamil. Saat kami semua sudah selesai sarapan barulah dia bangun dari tidurnya. Dan saat itu pulalah, seseorang yang tidak kami kenal memasuki ruangan makan. Ternyata dia adalah Manager Mes itu yang memang datang setiap seminggu sekali.

Melihat Mesnya ramai tanpa ada pemberitahuan, dia akhirnya bertanya dengan Ante Ely perihal hal ini. “Darimana ini ? Kok tidak ada pemberitahuan ?” ujarnya. Ante Ely pun menjawab, “Dari Air Molek, kemaren mau mengantarkan surat izin tapi kantor Rengat tutup, dia juga sudah izin kok sebelum membuat surat izin. Suratnya ada itu di atas. Tunggu saya ambilkan.”

Sementara itu, pak Dicky dan Ribut menghadap Manager itu dan menjelaskan semuanya. Pak Dicky yang tidak tahu apa-apa, terlihat agak gugup dan takut. Kami yang melihat di depannya pun menahan ketawa. Setelah diinterogasi beberapa menit, akhirnya dia mengatakan,”Ya sudah, silahkan melihat-lihat di tempat ini. Semoga kalian semua senang yah.” Hmmb, akhirnya.. dan nanti siang jam 9-an kami berencana berangkat ke air terjun untuk mandi-mandi menyegarkan badan.

“Siapp berangkat…??” Ucap Gustri sang ketua kelas, langsung saja kami berbaris di depam Mes, berdoa sebentar dan berangkat. Sepanjang perjalanan kami pun bercanda dan bercerita bersama. Di tengah perjalanan kami pun asyik berpose ria. Jalan selangkah dua langkah, “Kliiks !” suara kamera. Anak-anak eLstwo kan gila kilat. Selalu begitu sampai tiba di air terjun yang sangat indah.

Setelah bersenang-senang di air terjun, kami semua segera saja bersiap-siap kembali ke Mes, di tengah perjalanan ternyata Para penjaga Mes termasuk Ante Ely juga sedang mandi ke kolam di air terjun. Mereka juga ingin bersenang-senang seperti kami. Kami melanjutkan perjalanan sampai berhenti di persimpangan jalan. Kami bingung memutuskan untuk lanjut keliling-keliling hutan atau pulang ke Mes.

“Ayo lah jalan, masak pulang ke Mes sih.. Mau Ngapain sih di Mes ?” Tanya Mela dengan gaya lebay-nya. “Udahlah Mel, pulang saja ke rumah. Capek nih haa..” Ungkap Arjuna sambil duduk di pinggiran pendopo. Kami berdebat antara pulang atau berjalan-jalan. Melihat perdebatan kami Bang Sohib mulai bertanya, “Hayyoo.. Kalian mau jalan atau pulang ?”. Berkali-kali dia menanyakan hal itu. Akhirnya kami pergi sendiri-sendiri. Arjuna beserta anak-anak lainnya yang ingin pulang berjalan menuju ke Mes. Sedangkan kami yang masih ingin berjalan-jalan, langsung menuju Danau Muun berdasarkan tuntunan Bang Sohib yang tertawa akibat candaan Mela.

Jalanan menuju Danau Muun sangat sulit dilewati, areal tanah yang curam di barengi tangga yang ukurannya sangat mini alias kecil-kecil dan begitu banyak. Kami merasa kelelahan berjalan menuju Danau Muun itu. Tetapi dengan semangat yang membara, kami tetap berusaha untuk segera sampai ke tujuan.

Kesulitsn yang kami alami akhirnya terbalaskan saat melihat Danau Muun yang cukup Indah, namun yang sangat mengagumkan adalah ikan-ikan yang hidup di dalamnya, sangat banyak. Mulai dari ukuran yang kecil sampai  ukuran yang paling besar. Setelah puas melihat Danau akhirnya lagi-lagi kami terbagi dua, anak-anak yang masih ingin melanjutkan perjalanan akhirnya pergi bersama Bang Sohib menuju ke Rumah pohon. Sedangkan kami pulang menuju ke Mes.

Sesampainya kami di Mes, setelah melepas lelah, mmembersihkan diri dan mengganti pakaian. Kami turun ke Dapur melihat kegiatan di dapur. Tidak di sangka ternyata ada pemandangan yang tidak biasa. Arjuna menjadi pemimpin kru koki di dapur yang artinya Arjuna-lah yang memasak di dapur. Hmmm, ada-ada saja yah yang dilakukan Arjuna. Selalu saja membuat kami terkejut.

Setelah masakan selesai disajikan, kami makan bersama anak-anak eLstwo dan bersama para penjaga Mes. Setelah itu, ayo kembali berjudi, main domino atau remi tinggal pilih. Mau di  atas atau di bawah boleh saja. Yang penting kita happy. Di saat merasa bosan kami di ajak melihat-lihat ruang informasi. Di sana banyak sekali penjelasan-penjelasan mengenai daerah ini. Tapi, tiba-tiba ada pengunjung lain yang datang bersama rombongannya.

Kami merasa kurang senang dengan kedatangan mereka. Tampaknya mereka sangat sombong dan norak.Penampilannya saja sangat-sangat mencolok. Kami merasa terganggu jikalau saja mereka mau menginap di Mes yang sama, maka dari itu kami menganggap mereka tidak ada.

Sore ini, aku, Ocha. Andita dan didit lah yang harus memasak di dapur untuk makan malam. Sedangkan yang lainnya sedang santai-santai dan ada juga yang sedang main bola volly di halaman belakang. Berhubung semua bahan-bahan mulai menipis, maka kami mencari cara agar yang kami masak bisa mencukupi untuk se,ua anggota. Setelah selesai masak, makanan itu kami letakkan di atas meja makan dan segere memasak nasi. Sambil mennunggu nasi matang, kami duduk-duduk di luar uuntuk melihat matahari terbenam.

Hari sudah mulai gelap menjelang maghrib, kami memasuki Mes dan bersiap-siap untuk mandi. Andita ingin menunjukkan masakan kepada Djenii, apakah cukup untuk malam ini. Tetapi, tiba-tiba saja Andita tersentak. “Loh, kok sambalnya tinggal sedikit ? Tadi memang sedikit sih, tapi gak sedikit kali kayak gini !” Ucapnya penuh emosi. Saat dia melihat mangkuk kosong bekas Indomie sang supir anak-anak tadi, dia menemukan ikan yang kami sambal ada di sana. Itu berarti, dia sudah memakan masakan kami. Andita merasa tidak terima, “Pantanglah, sudahlah sedikit !  Dimakan pula sama dia, jadi tambah sedikitlah. Entah cukup entah enggak lah nanti nih.”

Semua anggota eLstwo merasa marah. Namun,kami masih merasa sabar. Itulah eLstwo, semarah apapun kami, kami akan tetap berlapang dada. Terpaksa kami membagi makanan itu seminimum mungkin agar semuanya kebagian. Malam yang cerah pada mulanya, di hiasi dengan pemandangan bulan purnama yang sangat berssinar. Sampai-sampai kami berebut mendapatkan teropong untuk bisa melihat bulan lebih besar lagi. Untung saja aku bisa juga mendapatkan giliran meneropong bulan yang sangat indah itu. Dari lensa teopong itu tampaklah keindahan bulan secara jelas.

Selesai makan, kami berencana untuk mengadakan acara bakar jagung + acara api unggun. Sebelum itu, kami disibukkan dengan masalah yang ditimbulkan oleh Swesvi, kakinya terasa nyeri dan tidak bisa digunakan untuk berjalan. Setelah menjadi kacungnya Arjuna yang menyiapkan makan malamnya. Selanjutnya, menjadi kacungnya Swesvi yang mengangkat serta menggendongnya bersama-sama kemanapun dia mau pergi. Sungguh-sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan.

Sedang duduk-duduk asyik di depan api unggun, seekor tarantula melewati tempat kami berada. Kami langsung terpesona dan menjepretnya. Om Basuki juga ikut-ikutan, kami merasa melihat pemandangan baru. Tapi, angin langsung berhembus sangat kencang. “WwUuusshhh….” sepertinya malam ini akan turun hujan. Padahal, acara kami belum selesai bahkan baru saja dimulai. Benar saja, tiba-tiba hujan deras mengguyur kami. Kami berlarian memasuki Mes, walaupun kami tertawa terbahak-bahak. Kami merasa kecewa, padahal ini kan malam terakhir kami di tempat ini.

Berhubung hari hujan deras, kami makan jagung di dalam Mes saja. Bersama-sama dengan Bang Sohib, Om Basuki, dan Ante Ely. Selanjutnya kami main Remi dan Domino di atas bersama Ante Ely. Sekaligus mengajak anak-anak tembilahan itu main. Tapi, yang cowoknya saja. Berhubung cewek-ceweknya sombong-sombong. Dani dan Habibi, itulah yang bermain bersama kami malam itu. Kami bercanda bersama, ejek-ejekkan, sampai-sampai Mela menyebut mereka Banci karena mereka kalah main dan kami yang menang, aku dan Mela. Karena menyerah, akhirnya mereka tidur.

Selanjutnya, kami main bersama Arjuna Berhubung Retno yang kalah, kami sepakat untuk ngerjain Retno. Arjuna yang sangat bersemangat, sampai rela mengejar-ngejar retno sampai masuk ke kamar cewek dan kena marah sama Ante Ely. Hahaha, Retno tidak mau bermainlagi karena takut wajahnya kami coret-coret lagi. Setelah merasa lelah, kami pergi ke kamar dan tidur.

Pagi harinya, kami bangun dan pergi senam. Hari terakhir kami berada di Mes ini. Tepat jam 9 nanti kami harus segera meninggalkan Mes ini karena kami harus berjalan kaki keluar menuju simpang. Disebabkan, mobil tidak dapat mendaki sehabis hujan semalam. Setelah siap membereskan segala perlengkapan, kami pun segera stand by di depan Mes, menunggu Tante Ely dan Om Basuki untuk berpamitan. Kami merasakan kesedihan yang amat dalam. Mereka pun seakan sulit melepas kepergian kami. Namun, kami tetap harus pulang. Kami diantar sampai di gerbang Mes membuat kami hampir menitikkan air mata.

3 jam perjalanan, kami bertemu dengan mobil yang mengangkut kami telah memasuki hutan. Kami langsung menaiki mobil itu dengan cepat untuk melepas rasa lelah. Alangkah senangnya kami saat menaiki mobil dan berhasil keluar dari area Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Segera kami encari air minum untuk enghilangkan dehidrasi yang telah kami alami sejak tadi.

Sepanjang perjalanan, kami sudah tidak bertenaga lagi. Kami sudah kehilangan energi untuk berdiri ataupun bergerak. Tentu saja, kami terbaring lemah dan tertidur pulas. Beberapa jam kemudian, kami sampai di pekarangan sekolah. Di situlah akhir kisah perjalanan kami yang sangat menyenangkan itu. Kami ELSTWO akan selalu mengukir keajaiban. JJJJ

Image

Karya: AMANDA AYUNINGTIYAS